Dzikir Pagi dan Petang

Januari 28, 2009

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari pembalasan. Salah satu sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallamyang telah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam selalu lakukan adalah berdo’a di waktu pagi dan petang, yang lebih akrab disebut dengan dzikir pagi dan petang. Dan perintah untuk berdzikir pada waktu pagi dan petang telah tertuang di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. (Tahaa:130)

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَاْلإِبْكَارِ

Dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi.(Al-Mu’min:55)
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآَصَالِ وَ لاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dabn petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al-‘Araf:205)

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari, sedang mereka mengharapkan wajah-Nya.(Al-An’Am:52)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلآَصَالِ

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.(An-Nur:36)

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَاْلإِشْرَاقِ

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung
untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.(Shaad:18)

Secara bahasa:الآصال bentu jamak dari أصيل artinyaما بين العصر والمغرب (waktu) antara ashar dan magrib, dan العشي artinya ما بين زوال الشمس وغروبها (waktu) antara condongnya matahari ke barat sampai tenggelamnya.

Begitu pula Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallammenjelaskan tentang dzikir pagi dan petang ini dengan sabdanya yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu dengan jalan yang marfu’:

“Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’aladari shalat Shubuh hingga terbit matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat orang keturunan Ismail, dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata,ala dari Shalat Ashar hingga terbenam matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat (orang budak). (H.R. Abu Daud no.3667 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam shahih Abu Daud 2/698)

DZIKIR PAGI DAN PETANG

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم { اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ }

Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ(286)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul 5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, 5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, 6. dari (golongan) jin dan manusia.
Siapa saja yang membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas), tiga kali setiap pagi dan petang dicukupkan baginya dari segala sesuatu”.

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ ( أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى ) الْمُلْكُ لِلَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمُ ( هَذِهِ الْلَيْلَةُ ) وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ ( بَعْدَهَا ) وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمُ ( هَذِهِ الْلَيْلَةُ ) وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ ( بَعْدَهَا )، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ ، أَََعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ فِيْ النَّارِ وَعَذَابِ فِِيْ الْقَبْرِ

Kami telah memasuki waktu pagi ( Kami telah memasuki waktu sore ) kerajaan milik Allah, segala puji bagi Allah, Tiadak ada Tuhan yang disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhanku, aku mohon kepada-Mu kebaikan hari ini
(malam ini) dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini (malam ini) dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan-ku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua (pikun-pen). Wahai Tuhan-ku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.
Pada sore hari kalimat yang bergaris bawah diganti dengan kalimat yang didalam kurung “(…)”.
اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا ، وَبِكَ نَحْيَا ، وَبِكَ نَمُوْتُ ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (semua makhluk). Dibaca pada waktu pagi
.

اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا ، وَبِكَ نَحْيَا ، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak_mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (semua makhluk ). Dibaca pada waktu sore.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku, aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku.Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau”.

Siapa yang membacanya dengan yakin pada sore hari, kemudian dia meninggal, maka dia akan masuk surga, demikian juga jika (dibaca) pada pagi hari.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَمْسَيْتُ ) أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi bersaksi kepada-Mu, malaikat yang memikul ‘Arsy-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu”.

Barang siapa yang membacanya dua kali Allah akan membebaskanya dari api neraka 1/2nya, yang membacanya tiga kali Allah akan membebaskanya dari api neraka 2/3nya, yang membacanya empat kali Allah akan membebaskanya dari api neraka.Dan apa bila sore hari kalimat yang bergaris bawah diganti dengan yang di dalam kurung (…).

اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

“Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)”.
“Barang siapa yang membacanya di pagi hari,maka sungguh ia telah bersyukur pada hari itu. Barang siapa yang membacanya di sore hari, maka ia sungguh telah bersyukur pada malam itu”.

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إَِلَهَ إِلاَ أَنْتَ .اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ عَذَابِ اْلقَبْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَ أَنْتَ.

“Ya Allah, selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah!, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau“.Dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang.

حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَلْتُ وَهُوَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ
“Cukup bagiku Allah (sebagai pelindung), tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Kepada- Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan ‘Arasy yang Agung”.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ اْلعَافِيَةَ فِيْ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَاْلعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ َوأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ، اَللَّهُمَّ احْفِظْنِيْ مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan: dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku, hartaku. Ya Allah tutuplah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak di lihat orang lain) dan berilah ketentraman di hatiku. Ya Allah, peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku”.

اَللَّهُمَّ عَالِمَ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلَّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهَ إِلَى مُسْلِمِ

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan dan bala tentaranya, atau aku menjalankan kejelekan terhadap diriku atau mendorong orang Islam padanya”.

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya. Dialah Yang Maha Mengetahui“. Dibaca tiga kali.”

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبّاً ، وَبِالإِِسْلاَمِ دِيْناً وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِياً

Aku rela Allah sebagai Tuhan-(ku), Islam sebagai agama-(ku) dan Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallm sebagai nabi-(ku)“.
,Siapa yang membacanya tiga kali saat pagi dan petang tiga kali, maka Allah pasti akan meridhainya pada hari kiamat”.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنِ

“Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Terjaga, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan Engkau limpahkan (semua urusan) terhadap diriku walau sekejap mata”.

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ اْلمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا اْليَوْمُ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهَدَاهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Kami di waktu pagi, sedang kerajaan milik Allah, Tuhan penguasa alam. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat) pertolongan, cahaya, berkah, dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ada didalamnya dan kejahatan sesudahnya”.

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ ، وَكَلِمَةِ اْلإِخْلاَص وَدِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمِلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Diwaktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas, agama nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wasallam dan agama ayah kami, Ibrahim ‘Alaihis Salam yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orangorang musyrik“

سُبْحَانَ الله ُوَ بِحَمْدَهِ

Maha Suci Allah dan segala puji (bagi-Nya)“. Dibaca seratus kali.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ،لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

Dibaca sepuluh ( 10 ) kali atau seratus ( 100 ) Kali. Dibaca seratus kali setiap pagi’.
 “Siapa yang membacanya setiap hari seratus kali, maka dia bagaikan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus baginya seratus dosa, dan dia terpelihara dari setan hingga sore dan tidak ada seorangpun yang mendapatkan keutamaan seperti itu, kecuali seseorang yang mengamalkannya lebih banyak dari itu.
 Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca: Laailaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘alaa kulli syaiin qadiir, sepuluh kali, maka dia seperti orang yang memerdekakan empat orang budak dari keturunan Nabi Ismail.

سُبْحَانَ اللهُ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Maha Suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arasy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya “. Dibaca tiga kali pada waktu Pagi.

اَللَّهُمَّ إِنِّيَ أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً ، وَرِزْقاً طَيِّـباً ، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amal yang diterima“. Dibaca pagi hari.

َعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan“.
Dibaca tiga kali pada sore hari. Siapa yang membacanya pada sore hari tiga kali maka dia tidak akan tertimpa demam pada malam itu”

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, (sampaikanlah) shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Dibaca sepuluh kali.
Siapa yang bershalawat kepadaku saat pagi sepuluh kali, dan sore sepuluh kali, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat”.

9845 – أخبرنا يونس بن عبد الأعلى قال أخبرنا بن وهب قال أخبرني الليث عن العلاء بن كثير عن أبي بكر بن عبد الرحمن بن المسور بن مخرمة عن أبان بن عثمان انه قال : من قال حين يمسي سبحان الله العظيم وبحمده لا حول ولا قوة الا بالله لم يضره شيء حتى يصبح وإن قال حين يصبح لم يضره شيء حتى يمسي فأصاب أبان فالج فجئته فيمن جاءه من الناس فجعل الناس يعزونه ويخرجون وأنا جالس فلما خف من عنده قال لي قد علمت ما أجلسك أما ان الذي حدثتك حق ولكني أنسيت ذلك تابعه الزهري على روايته فوقفه
النسائي

Ayat-Ayat Dan Do’a Ruqyah

1) أَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْم

2) بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

3) الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)

4) وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (102)

5) وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (163) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)

6) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)

7) لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

8) شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)

9) إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54) ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)

10) وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ (117) فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (118) فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ (119) وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ (120) قَالُوا آَمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (121) رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ (122)

11) وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ (79) فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80) فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ (81) وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (82)

12) قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى (65) قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66) فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى (67) قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَى (68) وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى (69) فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آَمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى (70)

13) أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118)

14) وَالصَّافَّاتِ صَفًّا (1) فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا (2) فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا (3) إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ (4) رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ (5) إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (10)

15) وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32)

16) يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ (33) فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (34) يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ (35) فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (36)

17) لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (21) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

18) قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3) وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا (4) وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (5) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6) وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا (7) وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآَنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا (9)

19) قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

20) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

21) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Keterangan:

1) Ta’awudz 2) Al-Fatihah 3)Al-Baqarah:1-5 4)Al-Baqarah:102
5) Al-Baqarah:163-164 6)Al-Baqarah:255-257 7)Al-Baqarah:284-286 8)Ali Imran:18-19
9) Al-A’raf:54-56 10)Al-A’raf:117-122 11)Yunus:79-82 12)Toha:65-69
13) Al-Mu’minun:115-118 14)Ash-Shoffat:1-10 15)Al-Ahqof:29-32 16)Ar-Rahman:33-36
17) Al-Hasyr:21-24 18)Al-Jin:1-10 19)Al-Ikhlash 20)Al-Falaq
21) An-Naas

خطبة الجمعة الشرعية

Januari 24, 2009

من: سعد الحصين

إلى: أخي في الدين وفي بلد ودولة أُسسا من أول يوم على منهاج النبوة في الدين والدعوة، خطيبَ الجمعة، وفقه الله لطاعته، ونصر به دينه، وثبته على شرعه.

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

أما بعد: فالحمد لله الذي اصطفاكم لحمل أمانة الوظيفة العظيمة التي اصطفى لها نبيه وخلفاء نبيه وصحابته وفقهاء أمته في القرون المفضلة صلوات الله وسلامه ورحمته وبركاته عليهم أجمعين.

ولأن هذه الوظيفة (الدعوة إلى الله فرضاً لا نفلاً) هي خير وظيفة بعد النبوة؛ فقد اخترت (باختيار الله لي وفضله علي) تذكير نفسي وإخواني ـ بين حين وحين ـ بما يحفظ هذه الوظيفة من التغيير والتبديل؛ وأهمه:

أ‌- الثبات على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم وأرضاهم من منهاج رضيه الله لهم، وأساسه: الوحي اليقيني من الله تعالى على قلب رسوله.

ب‌- الحذر من تحكيم الفكر الموصوف – خطأً – بالإسلامي، ومصدره: الاستحسان العاطفي والتحسين العقلي، ولا سند لهما إلا الهوى والظن واتباع سنن من سبق.

ت‌- ولم تكن الخطب الشرعية في القرن الأول، وهو القدوة، تزيد عن الآيات من كتاب الله وصحيح الحديث من سنة رسوله، والموعظة بالأحكام الشرعية من الكتاب والسنة بفهم الفقه الأول (عندما كان خالصاً للوحي لم يختلط بالفكر والظن والابتداع)، وأهمها الأمر بإفراد الله بالعبادة والتزام السنة والنهي عن الإشراك في العبادة والبدعة.

ث‌- وأصح وأقوى ما ورد عن خطب النبي صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة:

1- ما رواه مسلم: « … ما أخذت {ق والقرآن المجيد} إلا عن لسان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرؤها كل جمعة على المنبر إذا خطب الناس» وفي رواية: «يخطب بها كل جمعة».

2- وما رواه مسلم: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا خطب يقول: «بعثت أنا والساعة كهاتين» ويقرن بين أصبعيه السبابة والوسطى، ويقول: «أما بعد: فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة» ثم يقول: «أنا أولى بكل مؤمن من نفسه؛ من ترك مالاً فلأهله، ومن ترك ديناً أو ضياعاً فإليّ وعليّ».

3- وقال ابن القيم رحمه الله عن خطب النبي صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة: «إنما هي تقرير لأصول الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله ولقائه وذكر الجنة والنار وما أعد الله لأوليائه وأهل طاعته وما أعد لأعدائه وأهل معصيته» زاد المعاد 1/423.

4- وقال الصنعاني رحمه الله عن خطب النبي صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة: «كان يعلم أصحابه في خطبته قواعد الإسلام وشرائعه ويأمرهم وينهاهم، ويذكر معالم الشرائع في الخطبة، والجنة والنار والمعاد. وكانت محافظته [على الخطبة بسورة ق] اختياراً منه لما هو أحسن في الوعظ والتذكير.» سبل السلام 2/49-50.

ج‌- واتفق فقهاء المذاهب الأربعة على أن مقصود الخطبة الموعظة فلا يجوز الإخلال بها في الخطبتين، وإن كاد يتفق متأخروا الخطباء منذ القرن الماضي على مخالفة السنة وابتداع تضييعها بأخبار وسائل الإعلام التي لا يجوز إدخالها في العبادة لو صحت، فكيف وهي مظنة المبالغة والتحريف والكذب؟

ح‌- لم تتضمن خطبة واحدة من خطب النبي صلى الله عليه وسلم ولا خلفائه ولا صحابته ولا الأئمة في القرون المفضلة خبراً من أخبار الطوارئ والحوادث وتحليلاتها؛ لا الغزوات الكبرى ولا الهجرة ولا ذكرى الإسراء والمعراج والمولد ولا غيرها مهما كثرت وعظم خطرها حتى بداية القرن الماضي ونهاية الذي قبله حيث بدأ الفكر الإسلامي ـ زعموا ـ يحتل مكانة العلم الشرعي.

خ‌- وأعجب المتأخرون بفكرهم فأطالوا الخطبة وقصروا الصلاة مخالفة صريحة ومصرة للحديث: «أطيلوا الصلاة واقصروا الخطبة.» رواه مسلم في صحيحه.

د‌- وأعجب المتأخرون بفكرهم فانشغلوا وشغلوا المصلي بالمحسنات اللفظية (السجع والشعر) وبالقصص عن تعليم الدين الذي شرع الله الخطبة لأجله ولا يجتمع المسلمون إلا له.

ذ‌- ولما خالف المتأخرون السنة في موضوع الخطبة خالفوا السنة في اختيار ما يتلى في صلاة الجمعة من القرآن؛ ليلائم الموضوعات المبتدعة إرضاء للهوى بمخالفة الشرع.

ر‌- ومع المخالفة في اختيار ما يتلى في الصلاة، التزموا مخالفة قضاء الله وشرعه وسنة رسوله، بالربط بين آيتين أو أكثر فرقها الله بحجة بيان المعنى استدراكاً على الله ورسوله، والتزموا ما سُمِّي (قواعد وأحكام التجويد) مما ليس عليه دليل شرعي كما قاله الشيخ ابن عثيمين في كتابه «العلم» ص 117 وأفتى به الشيخ ابن سعدي وابن باز رحمها الله، وحذَّر ابن تيمية رحمه الله من الانشغال به عن التدبر والعمل والتبليغ. رد الله الجميع إلى دينه ردًّا جميلاً.

سعد الحصين (محرم: 1430هـ)

تعاوناً على البر والتقوى.

رأيٌ في كتاب الأشاعرة الكبير للدكتور سفر الحوالي

Januari 24, 2009

من: سعد الحصين، إلى أخي في الدين الشيخ (….) أحسن الله رزقه وعمله.

لا يظهر لي أن أ.د. سفر الحوالي وُفِّق في (الكبير) كما وفق في (الصغير) كما وصفهما، من (منهج الأشاعرة في العقيدة). وبخاصة في المقدمة؛ فقد كانت في الأول: ردًّا موثقًا على مقالات الصابوني عن الأشاعرة. وكانت في الثاني: تحليلًا ساذجًا مبتذلًا لحال العصر مما سمي: فقه، بل فكر الواقع. وهو مؤهل للبحث العلمي أكثر من تأهيله للفكر الظني الذي انصرف إليه (واأسفاه) مع بداية القرن الخامس عشر الهجري بل مع بداية العقد الثاني منه، ويتضح ذلك من المقارنة بين عرضه للمنهاج الأشعري في الاعتقاد وبين تحليله السياسي الذي تخبط فيه من قبل فظنَّ أن تحول روسيا عن الشيوعية مكر منها للخروج وراء الستار الحديدي، وظن أن الجزائر لا تزال على الطريق الاشتراكي (العربي) بعد عشر سنوات من تحولها إلى الديمقراطية العربية. وتخبط فيه من بعد فظن هنا أن امبراطور اليابان (لا يزال منسوبًا إلى سلالة الآلهة) بعد أن أنكرها هيروهيتو عام 1946 قبل أكثر من 50 عامًا، أما ابنه الإمبراطور الحالي فلم يرتبط بها أصلًا (ص 6). بل يتناقض ويتخبط هنا فيما يقرره (ص 7) من دعوى (بروز ظاهرة إنسانية كبرى: العودة إلى الماضي (الظاهرة الواقعة التي شهدتها إنما هي: رفض الماضي والحاضر) ويحكم على هذه العودة الخيالية (بالخسران الأكبر والإفلاس الماحق لقوم كفروا بالله ورسله)، ثم يقرر (آخر ص 7 وأول ص 8) بأن هذا الرافد العالمي العصري (الخاسر المفلس) التقى بالرافد الأصلي (بقايا الخير في هذه الأمة)، يقول: (بدأ هذان الرافدان تشكيل نهر لا بدَّ أن يصبح تيارًا يجتاح ما على الأرض من الشرور والأدران والأوثان) كيف يتعاون الشر مع الخير على إزالة الشر؟ لعل المعنى في بطن المفكِّر. ولن أدخل في تفاصيل التخبط الفكري في هذه المقدمة وحدها (وغيرها كثير) منذ انحرف المؤلف (ردنا الله وإياه إلى دينه ردًا جميلًا) عن الفقه إلى الفكر بعد أن كان يحذر من هذا الانحراف، بل اكتفى بهذه الملاحظات القليلة التي أشرت إليها في حديثنا الهاتفي عن اختياري مؤلفه الصغير (قبل الانحراف) على (الكبير) بعد الانحراف، ولم يكن أسوأها استدلاله بأبيات للمعري يتمنى الموت ويسبُّ الدهر (ص 22)، وفق الله الجميع لأقرب من هذا رشدًا. (23/10/1429 هـ)

ترجمة الشيخ عبدالسلام بن برجس آل عبدالكريم

Januari 24, 2009

لقد فجع أهل السنة والجماعة عند تلقيهم لخبر وفاته فضيلة الشيخ الدكتور عبدالسلام بن برجس بن ناصر آل عبدالكريم الذي وافته منيته ليلة السبت الموافق 13 – 2 – 1425هـ في حادث مروري مروّع في طريقه من الأحساء إلى الرياض.

والشيخ عبدالسلام معروف لدى علماء هذه البلاد المباركة ومشايخها، والدليل كثرة العلماء والمشايخ الذين حضروا للصلاة عليه، ولقد سمعت عدداً من المشايخ والفضلاء يقول: (لقد فاق علم الشيخ عبدالسلام سنه) ولقد قيل: (لو عُمر لكان آية) ولقد رأيت الكثير من العلماء وطلاب العلم متأثرين بفقده، فلقد كان مدافعا عن السنة منافحا عنها بنفسه وقلمه وماله.

ولقد مَنّ الله عليّ بالقرب من الشيخ فترة تعد قصيرة بالنسبة إلى عدد من أخلائه وأحبائه، وكنت في قربي منه إذا سمعت منه شيئا في ترجمته وأخباره قيدته، فاجتمع لي شيء من هذه الأخبار، وكلما ضمني به مجلس ذاكرته بها وكان يقول لي (أنا لست ممن يترجم له أنا أقل من ذلك)، والآن أرى أنه من أقل الواجب له أن أبرز هذه الترجمة على ما فيها من قصور. فأقول – مستيعنا بالله :

هو أبوعبدالرحمن عبدالسلام بن برجس بن ناصر آل عبدالكريم.

وأسرة آل عبدالكريم من الأسر المشهورة في حرمة التابعة لمحافظة المجمعة، وهذه الأسرة من المعامرة من بني سعد من بني تميم.

– ولد في الرياض في عام 1387هـ كما هو مثبت في بطاقة الأحوال الشخصية له، ونشأ في رعاية أبويه، وبيتهم بيت ديانة وصلاح، ولقد كان الشيخ من صغره ذكيا حازما مجدا مجتهدا.

حفظ القرآن، وبدأ في طلب العلم، وهو في الثالثة عشرة من عمره، ولاحظ مشايخه عليه علامات النبوغ والتميز فأوْلَوْه مزيد عناية واهتمام.

ولقد تتلمذ الشيخ على يد عدد من علماء هذه البلاد المباركة منهم :

الإمام العلامة الشيخ عبدالعزيز بن عبدالله بن باز ت 1420هـ – رحمه الله – لازمه فترة، وحضر العديد من دروسه خصوصا في بلوغ المرام لابن حجر، وتفسير ابن كثير وغيرها من الكتب.

ومنهم: الشيخ الفقيه الأصولي محمد بن صالح بن عثيمين ت 1421هـ – رحمه الله – وقد رحل اليه الشيخ عبدالسلام ما بين سنتي 1401 – 1403هـ في فترة إجازات المدارس النظامية، كما لازمه حينما بدأ الشيخ محمد دروسه في المسجد الحرام بمكة سنة 1402هـ، وكان يسكن معه قبل أن يصطحب الشيخ معه أهله إلى مكة، وغير ذلك من الأوقات، وقد قرأ عليه في كتاب التوحيد والعقيدة الواسطية والعبادات من زاد المستقنع في الفقه، والأجرومية في النحو، ومختصر قواعد بن رجب للشيخ محمد، وصحيح البخاري قرابة النصف، وقد كان الشيخ محمد يجل الشيخ عبدالسلام ويقدره، ولقد رأيت هذا بنفسي. ومنهم الشيخ عبدالله بن عبدالرحمن بن جبرين لازمه مدة أربع سنوات قرأ فيها عليه التوحيد لابن خزيمة، والنونية لابن القيم مع شرحها لابن عيسى، وقد حفظ منها الشيخ عبدالسلام قرابة الألف بيت، كما قرأ في زاد المستقنع مع الروض المربع، ومعارج القبول للشيخ حافظ الحكمي.

وقد استفاد الشيخ عبدالسلام من الشيخ ابن جبرين كثيراً.

ومنهم الشيخ المحدث العلامة عبدالله بن محمد الدويش ت 1409هـ قرأ عليه في فترة الإجازات النظامية في بريدة، قرأ عليه ألفية العراقي، وقطعة من سنن أبي داود.

ومنهم الشيخ صالح بن عبدالرحمن الأطرم – رفع الله عنه – درس عليه في كلية الشريعة في جامعة الإمام محمد بن سعود في حاشية الروض لابن قاسم وفي دروس مسجده، ومنهم الشيخ فهد الحمين – حفظه الله – قرأ عليه في التوحيد والفقه، ومنهم الشيخ عبدالله بن قعود – رفع الله عنه – قرأ عليه في فتح المجيد .

ومنهم الشيخ الفقيه الأصولي عبدالله بن عبدالرحمن بن غديان درس عليه في المعهد العالي للقضاء.

ومنهم الشيخ صالح بن إبراهيم البليهي ت 1410هـ حضر له دروساً في زاد المستقنع مع حاشيته عليها المسماة (السلسبيل في معرفة الدليل).

ومنهم الشيخ الدكتور عبدالكريم الخضير قرأ عليه في نيل الأوطار للشوكاني، وألفية العراقي في المصطلح،

ومنهم الشيخ الفرضي أ. د عبدالمحسن بن محمد المنيف قرأ عليه الرحبية في الفرائض في مكة سنة 1405هـ في رمضان.

هؤلاء بعض مشايخه الذين تلقى الشيخ عنهم على جادة أهل العلم، وأما دراسته النظامية، فقد تلقى الشيخ تعليمه في مدينة الرياض، فأخذ المرحلة الابتدائية فيها، ثم التحق بالمعهد العلمي التابع لجامعة الإمام محمد بن سعود، ثم التحق بكلية الشريعة في الجامعة وتخرج منها في 1410هـ، فعين بعدها مدرسا في المعهد العلمي في القويعية التي تبعد قرابة 170 كم غرب الرياض على طريق مكة، ثم سمت همته للدراسات العليا فالتحق بالمعهد العالي للقضاء وأكمل فيه دراسة الماجستير، وكانت رسالة الماجستير بعنوان: (التوثيق بالعقود في الفقه الإسلامي).

ثم عين قاضيا في وزارة العدل، ولكنه طلب الإعفاء فلم يعف إلا بعد جهد جهيد، ثم رشح بعدها في ديوان المظالم في مدينة جدة، ولكنه لم يمكث فيها إلا أسبوعاً واحدا، ثم ترك الديوان رغبة عنه، وطلبا للسلامة، وعاد إلى الرياض محاضرا في المعهد العالي للقضاء، وقد تحصل على الدكتوراة في 1422هـ في تحقيقه لكتاب (الفوائد المنتخبات شرح أخصر المختصرات) لعثمان بن جامع ت 1240هـ بالاشتراك، وكان المشرف عليه سماحة مفتي عام المملكة الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ، وبعدها عين أستاذا مساعدا حتى وفاته – رحمه الله – .

ولقد كان – رحمه الله تعالى – غاية في الأدب، متواضعا معروفا بوداعته وأنسه وبشاشته مع والديه وشيوخه وأهل بيته ومجالسيه، وكل من خالطه يعرف عنه ذلك، لذلك كثر من تأثر بوفاته وحزن نسأل الله أن يجمعنا به في دار كرامته.

والشيخ عبدالسلام – رحمه الله – شاعر مجيد، قصائده في الذروة، وفي غاية من الرقة، وله مساجلات شعرية، وشعره يدل على فطرية هذه الموهبة، وعلى أنه لم يكن يتكلف كتابته، وكان شعره في أسماره ومحدودا بأصدقائه وأحبائه لو قدر أن تجمع لجاءت في مجلد لطيف يسر الله لها من يجمعها.

والشيخ عبدالسلام – رحمه الله – صاحب قلم سيال وعبارة رشيقة، له مؤلفات عديدة سارت بها الركبان، وشرقت وغربت وحصل بها نفع عظيم، وأول تأليف للشيخ كان قبل الثامنة عشرة من عمره، وهي كتب قيمة حصل بها النفع العظيم، وها أنا أذكر ما أعلمه منها وأذكر المطبوع وغير المطبوع.

1 – القول المبين في حكم الاستهزاء بالمؤمنين مطبوع في كتيب لطيف.

2 – إيقاف النبيل على حكم التمثيل مطبوع، في كتيب متوسط الحجم.

3 – التمني، مطبوع.

4 – عوائق الطلب، مطبوع.

5 – الإعلام ببعض أحكام السلام، مطبوع في كتيب لطيف.

6 – الحجج القوية على أن وسائل الدعوة توقيفية، كتاب مطبوع لطيف الحجم في غلاف.

7 – ضرورة الاهتمام بالسنن، كتاب لطيف الحجم في غلاف.

8 -الأبيات الأدبية الحاصرة طبع مرتين.

9 – الأبيات العلمية الحاصرة ذكرها الشيخ في مقدمة كتابه السابق، وذكر أنه لم يتم بعد، وقد سألته قبل وفاته بخمسة أشهر فقال: إنه لم يتم، ولو تم لكان عجباً أطلعني الشيخ على موضوعين منه، ولو طبع على حالته التي تركها الشيخ عليه لكان نافعاً جداً.

10 – المعتقد الصحيح الواجب على كل مسلم اعتقاده، وهو في الأصل محاضرة ألقاها الشيخ في الجامع الكبير، وعقب عليها الشيخ عبدالعزيز بن باز وأثنى على الشيخ عبدالسلام – رحمهما الله – وقد أشار أحد المشايخ الفضلاء بطبعها فنزل الشيخ على رغبته، فطبعت عدة طبعات فحصل به نفع عظيم.

11 – إبطال نسبة الديوان المنسوب لشيخ الإسلام ابن تيمية، مطبوع في غلاف لطيف.

12 – مجموع شعر شيخ الإسلام ابن تيمية، مطبوع بذيل الكتاب السابق.

13 – معاملة الحكام في ضوء الكتاب والسنة، طبع عدة طبعات، وحصل به نفع عظيم، وهو كتاب فريد في بابه.

14 – الأمر بلزوم جماعة المسلمين وإمامهم والتحذير من مفارقتهم، وهو في الأصل فصل من الكتاب السابق، أشار إليه أحد المشايخ المقربين منه أن يفرده لأهميته، فنزل على رغبته، فأفرده، وزاد عليه، طبع كثيرا، وحصل به نفع عظيم.

15 – بيان المشروع والممنوع من التوسل، مطبوع.

16 – التوثيق بالعقود في الفقة الإسلامي، وهو بحث تكميلي تقدم به الشيخ لنيل درجة الماجستير في المعهد العالي للقضاء ولم يطبع.

17 – قطع المراء في حكم الدخول على الأمراء، وقد ألفه الشيخ بناء على طلب أحد المشايخ الفضلاء مطبوع في مجلد لطيف.

18 – الأحاديث النبوية في ذم العنصرية الجاهلية، مطبوع في كتاب متوسط الحجم.

19 – الخيانة: ذمها وذكر أحكامها، مصفوف وجاهز للطبع أخبرني الشيخ بذلك قبل وفاته بأربعة أشهر تقريباً.

20 – مشروعية هبة الثواب، مصفوف وجاهز للطبع.

21 – المحاضرات في الدعوة والدعاة: والكتاب عبارة عن قرابة ثلاث عشرة محاضرة ألقاها الشيخ، وقمت بتفريغها مع الأخ منصور بن مبارك السفري وقام الشيخ بمراجعتها وتهذيبها ثم صفت وهي جاهزة للطبع.

22 – شرح المحرر في الحديث لابن عبدالهادي ت 744هـ، وكانت له عناية بهذا الكتاب محباً له وراغبا في إتمامه، ولكنه قدر الله فلم يتمه الشيخ انتهى من كتاب الطهارة وغالب كتاب الصلاة.

23 – تدوين العقيدة السلفية جهود أئمة الإسلام في نشر العقيدة الإسلامية، وهو كتاب ممتع، وفيه فائدة وهو عبارة عن جمع لكتب السلف في العقيدة مع تراجم مختصرة لأصحابها، وكان الشيخ ينوي أن يجعله على جزءين الأول من القرن الأول وحتى نهاية القرن السابع، والثاني من بداية القرن الثامن، وحتى هذا العصر والشيخ أتم الجزء الأول، وأما الجزء الثاني فلم يشرع فيه حسب علمي القاصر.

والأول مصفوف وجاهز للطبع، وفي مكتبتي صورة منه.

24 – كتاب في الفقه وكان الشيخ يذكره كثيرا، ويذكر أنه يحرر فيه، ويدقق ولا أدري كم قطع الشيخ فيه.

25 – تراجم لبعض العلماء ولا أدري ما خبره، ذكره لي الشيخ الفاضل عبدالكريم بن محمد المنيف، وذكر أن الشيخ عبدالسلام ذكره له.

26 – بيان مشروعية الدعاء على الكافرين بالعموم، وهي رسالة لطيفة الحجم في هذه المسألة في ثماني صفحات مطبوعة ومنتشرة.

27 – ضرب المرأة بين حكم الشرع وواقع الناس.

وربما أن هناك أشياء أخرى لا أعلم بها، كما أن للشيخ عددا من المقالات المنشورة في الصحف والمجلات، وللشيخ عناية بكتب علماء الدعوة النجدية تحقيقا ونشرا وسعيا في نشرها، والعناية بها، فله الفضل بعد الله عز وجل في إعادة طبع كتاب (مجموعة الرسائل والمسائل النجدية) والتي طبعت عام 1346هـ؛ ولقد قام – رحمه الله – بتحقيق الكثير من الرسائل التي صدرت في سلسلتين الأولى بعنوان: (سلسلة رسائل وكتب علماء نجد الأعلام) والثانية بعنوان (من رسائل علماء نجد الفقهية)، وهي على النحو التالي :

1 – دحض شبهات على التوحيد للشيخ عبدالله أبابطين.

2 – الفوائد العذاب للشيخ حمد بن معمر.

3 – الرد على القبوريين للشيخ حمد بن معمر.

4 – الضياء الشارق للشيخ سليمان بن سحمان.

5 – سؤال وجواب في أهم المهمات للشيخ عبدالرحمن بن سعدي.

6 – تحفة الطالب والجليس للشيخ عبداللطيف آل الشيخ.

7 – الصواعق المرسلة الشهابية للشيخ سليمان بن سحمان.

8 – الرد على شبهات المستعينين بغير الله للشيخ أحمد بن عيسى.

9 – كشف الشبهتين للشيخ سليمان بن سحمان.

10 – إقامة الحجة والدليل للشيخ سليمان بن سحمان.

11 – شفاء الصدور في الرد على الجواب المشكور للشيخ محمد بن إبراهيم.

12 – الرد على جريدة القبلة للشيخ سليمان بن سحمان.

13 – التحفة المدنية في العقيدة السلفية للشيخ حمد بن معمر.

14 – أصول وضوابط في التكفير للشيخ عبداللطيف آل الشيخ.

15 – نصيحة مهمة في ثلاث قضايا لمجموعة من علماء الدعوة.

16 – منهاج أهل الحق والاتباع للشيخ سليمان بن سحمان.

17 – الرسائل الحسان للشيخ عبدالله بن حميد.

18 – نصيحة في التحذير من المدارس الأجنبية للشيخ عبدالرحمن بن سعدي.

19 – التأسيس والتقديس في كشف تلبيس دواد بن جرجيس للشيخ عبدالله أبابطين.

ومن السلسلة الثانية:

20 – الجهر بالذكر بعد الصلاة للشيخ سليمان بن سحمان.

ورسالة منفردة:

21 – مناصحة الإمام وهب بن منبه لرجل تأثر بمنهج الخوارج.

22 – الفوائد المنتخبات في شرح أخصر المختصرات لابن جامع النجدي، وقد حققه الشيخ، وتقدم به للمعهد العالي للقضاء لنيل درجة الدكتوراه في الفقه المقارن، وقام بتحقيق الكتاب من أوله إلى آخر باب الهبة، ولقد كان المشرف على الرسالة سماحة المفتي الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ – أمد الله في عمره – .

وهناك كتب أخرى قام الشيخ – رحمه الله – بتحقيقها، ولكنها لم تطبع.

ولقد كان الشيخ عبدالسلام حريصا على نشر الكتب العلمية عموما، وكتب علماء الدعوة خصوصاً، وكان ربما صور المخطوطات، أو سعى في تحصيلها لمن يقوم بتحقيقها، وقد أحصيت أكثر من ثلاثين – ما بين – كتاب ورسالة يذكر محققوها أنهم استفادوا بعض النسخ في تحقيقهم من مكتبة الشيخ – رحمه الله – وهناك الكثير من أخباره ومآثره التي يصعب حصرها هنا، فلعل الله ييسر جمعها وتبويبها.

أسأل الله أن يتجاوز عنا وعنه، وأن يجمعنا به في دار كرامته، وأن يغفر لنا وله ولوالديه ولإخوانه ولمحبيه وألا يحرمنا أجره وألا يفتنا بعده، آمين، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيرا إلى يوم الدين.

العزة والكرامة بين المتنبي ومتأخري العرب

Januari 24, 2009

1) نشر في بعض وسائل الإعلام العربية خبر عن اكتشاف منزل للمتنبي والحث على اتخاذه مزارًا يذكر العرب بالعزة والكرامة التي كان المتنبي رمزًا لها، فطلبت ممن اطلعني على الخبر وهو أحد الدعاة على منهاج النبوة أن يتولى الرد عليه مذكرًا الكاتب والمكتشف والقارئ بأن المتنبي آخر من يصلح رمزًا للعزة والكرامة الحقيقية، وقد قضى الله تعالى في محكم كتابه أن العزة (ومرادفها الكرامة) إنما هي لله ولرسوله وللمؤمنين في قوله تعالى: {وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ} [المنافقون: 8].

وسيأتيك نبأ المتنبي من خير نقاده: د. طه حسين تجاوز الله عنه في كتابه: «مع المتنبي» (دار المعارف، ط 12) بعد قليل إن شاء الله.

2) وقد اشتهر الجمع بين المترادفين (العزة والكرامة) في خطب جمال عبد الناصر تجاوز الله عنه، بل ادعى أنه مصدرهما إثر محاولة اغتياله (واتهم فيها حزب الإخوان المسلمين وحكم على عدد منهم بالقتل أو السجن): «دعهم يقتلونني فقد خلقت فيهم العزة وخلقت فيهم الكرامة.»، وأذيعت هذه الكلمات أكثر من مرة ثم أخفيت فلم تسمع مرة أخرى تجاوز الله عنهم. ودعاوى عرب العصر (مثل دعاوى المتنبي) عريضة – لو أعطي كل مدعٍ بدعواه – ولكن أكثرها جوفاء. على أن الرمز للعزة والكرامة العربية اليوم بحال المتنبي لا يبعد عن الصواب؛ فلا يتجاوز الدعوى بالقول شعرًا أو نثرًا.

وقد عاش المتنبي «يبيع ماء وجه على ممدوحيه» في لفظ طه حسين (ص 13)، وقال شاعر قبله عن المتنبي:

أي فضل لشاعر يطلب الفضل من الناس بكرةً وعشيًّا؟

عاش حينًا يبيع في الكوفة الماء وحينًا يبيع ماء المحيَّا

وليس من العزة أو الكرامة أن يتجنب منتمٍ إلى العروبة أو الإسلام ذكر أبيه أو أمه أو أحد من أهله (غير جدته) ولو لمزه اللامزون، «بينما يفاخر جرير بأبيه النكرة الشعراء ويقارعهم فيغلبهم» (ص 13 نقلًا عن كتاب الأغاني).

3) ويذكر المؤرخون أن المتنبي درس في مدرسة شيعية لبعض العلوييين وأخذ منها أسس ثقافته ونهج حياته المقبلة (ص 34). وثقافة الشيعة تكاد تضمن الضعة والذلة مع فساد المعتقد، (وإن نقل عنهم أكثر المنتمين إلى السنة عدوى الانحراف عن صحيح المعتقد وصحيح العبادة والتصوف والتعلق بالقبور وتقديس المشايخ، والابتداع في الدين عامة، والفتنة.)

4) ويستنبط طه حسين من شعر المتنبي أنه «تعلم في البادية العراقية أصول القرامطة وعرف مذاهبهم؛ فصار في شبابه قرمطي الرأي متحفزًا لأن يكون قرمطي السيرة» (ص 42). ومنهج القرامطة يجمع بين الإلحاد في الدين، والخروج على المسلمين، واسمع قول المتنبي:

إلى أي حين أنت في زي محرم *** وحتى متى في شقوة وإلى كم؟

فثب واثقًا بالله وثبة ماجد *** يرى الموت في الهيجا جني النحل في الفم

وطه حسين يرى في البيت الأول: كراهة صفة الإحرام عما حرم الله، وفي البيت الثاني: الحث على الخروج وشق عصا الطاعة، (ص 44).

وهو يرى أن المتنبي جمع في الأبيات التالية مهنة التزلف والتسول التي لازمته بقية حياته وصريح القول بالحلول:

يا أيها الملك المصفى جوهرًا *** من ذات ذي الملكوت أسمى من سما

نور تظاهر فيه لاهوته *** فتكاد تعلم علم ما لن يعلما

أنا مبصر وأظن أني نائم *** من كان يحلم بالإله فأحلما

بمعنى: أن ممدوحه قبس من ذات الله، وأن هذا القبس نور لاهوتي استقر فيه فكاد أن يظهره على الغيب، وأن الشاعر يرى الله تعالى في يقظته وإن ظن حينًا أنه في نومه، لأن الله لا يرى في الأحلام (ص 45).

وطه حسين باحث محقِّق لا يتهم المتنبي بما اتهم به من ادعاء النبوة، ولا يشكك في نسبه كما فعل غيره، ولا يحكم عليه إلا بما أثبته في ديوانه.

5) إذن: «نشأ المتنبي في بيئة شيعية ساخطة تنتظر الفرج ثم عاش في بيئة قرمطية هادمة لأصول ونظام الاجتماع المعنوية والمادية. ولما انهزم القرامطة وجلوا عن الكوفة إلى البحرين جلا المتنبي عن الكوفة إلى الشام وآثر الحيطة والحذر فأخفى قرمطيته ودعوته إليها، وجارى ممدوحيه وداراهم وخصهم بمدحه واستجدائه وإن أبغضهم (غير علي الحمداني)، وأعلن عن بغضه ومقته لعامة الناس (غير نفسه)» ص 47.

6) وليس من العزة والكرامة أن يضحي الشاعر بدينه وخلقه استجداءً للمال والوجاهة أو الإمارة فيقول لبعض ممدوحيه:

إن كان مثلك أو هو كائن *** فبرئت حينئذ من الإسلام

لم يخلق الرحمن مثل محمد[1] *** أحدًا وظني أنه لا يخلق

لو كان ذو القرنين أعمل رأيه *** لما أتى الظلمات صرن شموسًا

أو كان صادف رأس عازر سيفه *** في يوم معركة لأعيا عيسى

أو كان لج البحر مثل يمينه *** ما انشق حتى جاز فيه موسى

أو كان لنيران مثل جبينه *** عبدت فكان العالمون مجوسًا

ويقال: إنه أعطي عشرة دراهم على هذه السينية وشفع له فأعطى عشرة دراهم أخرى (ص 77)، وأعطي مالًا وإقطاعًا على بعض قصائده، ولم يعط على بعضها شيئًا ومهما أعطي فهو ثمن بخس لدينه وكرامته.

7) وكان يكره الخمر لأنها لا تلائم طموحه إلى الجهاد القرمطي:

أَلَذُّ مِنَ المُدامِ الخَندَريسِ *** وَأَحلى مِن مُعاطاةِ الكُؤوسِ

مُعاطاةُ الصَفائِحِ وَالعَوالي *** وَإِقحامي خَميسًا في خَميسِ

ولكنه يشربها إرضاء لمن حلف عليه بالطلاق ليشربن:

فَجَعَلتُ رَدِّي عِرسَهُ كَفّارَةً *** عَن شُربِها وَشَرِبتُ غَيرَ أَثيمِ

ويشربها لأن ممدوحه حلف بحقه ليشربن:

سَقاني الخَمرَ قَولُكَ لي بِحَقّي *** وَوُدٌّ لَم تَشُبهُ لي بِمَذقِ

يَمينًا لَو حَلَفتَ وَأَنتَ ناءٍ *** عَلى قَتلي بِها لَضَرَبتُ عُنقي

وَإِذا طَلَبتُ رِضا الأَميرِ بِشُربِها *** وَأَخَذتُها فَلَقَد تَرَكتُ الأَحرَما

8) ويكاد المتنبي أن يثوب إلى رشده بعد أن ألَمَّ ضيف الشيب برأسه:

إِلى كَم ذا التَخَلُّفُ وَالتَواني *** وَكَم هَذا التَمادي في التَمادي

وَشُغلُ النَفسِ عَن طَلَبِ المَعالي *** بِبَيعِ الشِعرِ في سوقِ الكَسادِ

ثم يعود إلى الانحراف الديني ودعوة الخروج القرمطي:

ما مُقامي بِأَرضِ نَخلَةَ إِلّا *** كَمُقامِ المَسيحِ بَينَ اليَهودِ

فَاِطلُبِ العِزَّ في لَظى وَذَرِ الذُ *** لَّ وَلَو كانَ في جِنانِ الخُلودِ

أَنا في أُمَّةٍ تَدارَكَها اللَـ *** ـهُ غَريبٌ كَصالِحٍ في ثَمودِ

لَقَد تَصَبَّرتُ حَتّى لاتَ مُصطَبَرٍ *** فَالآنَ أُقحِمُ حَتّى لاتَ مُقتَحَمِ

لَأَترُكَنَّ وُجوهَ الخَيلِ ساهِمَةً *** وَالحَربُ أَقوَمُ مِن ساقٍ عَلى قَدَمِ

بِكُلِّ مُنصَلِتٍ ما زالَ مُنتَظِري *** حَتّى أَدَلتُ لَهُ مِن دَولَةِ الخَدَمِ

شَيخٍ يَرى الصَلَواتِ الخَمسَ نافِلَةً *** وَيَستَحِلُّ دَمَ الحُجّاجِ في الحَرَمِ

9) وقد تكون هذه الأبيات التي يظهر فيها الرغبة عن الدين القويم والرغبة في سفك الدم (دم الرعاة ودم الرعية) هي التي سببت سجنه، ومثلها:

أُفَكِّرُ في مُعاقَرَةِ المَنايا *** وَقودِ الخَيلِ مُشرِفَةَ الهَوادي

زَعيمٌ لِلقَنا الخَطِّيِّ عَزمي *** بِسَفكِ دَمِ الحَواضِرِ وَالبَوادي

ويهدد الأمراء الذين يمنعه حجابهم من ذبح كرامته على أعتابهم بذبحهم:

فَإِنَّهُم قَد أَكثَروا الحُجّابا *** وَاِستَوقَفوا لِرَدِّنا البَوّابا

وَإِنَّ حَدَّ الصارِمِ القِرضابا *** وَالذابِلاتِ السُمرَ وَالعَرابا

يَرفَعُ فيما بَينَنا الحِجابا

ميعادُ كُلِّ رَقيقِ الشَفرَتَينِ غَدًا *** وَمَن عَصى مِن مُلوكِ العُربِ وَالعَجَمِ

فَرُؤوسُ الرِماحِ أَذهَبُ لِلغَيـ *** ظِ وَأَشفى لِغِلِّ صَدرِ الحَقودِ

ويرفع نفسه (بالادعاء الفارغ) عن بقية الخلق:

وَما أَنا مِنهُمُ بِالعَيشِ فيهِم *** وَلَكِن مَعدِنُ الذَهَبِ الرَّغامُ

10) وفي أول عهده بالسجن أظهر التجلد والمحافظة على كرامته الزائفة:

كُن أَيُّها السِجنُ كَيفَ شِئتَ فَقَد *** وَطَّنتُ لِلمَوتِ نَفسَ مُعتَرِفِ

ثم بدأ يستعطف الوالي التركي متشفعًا بغربته ودموع جدته:

بيدِي أيُّها الأميرُ الأريبُ *** لا لشيءٍ إلّا لأنّي غريبُ

أو لأُمٍّ لها إذا ذكَرتْني *** دمُ قلبٍ بدمع عينِ سكوبُ

إن أكُن قبلَ أن رأيتُكَ أخطَأ *** تُ فإنّي على يديكَ أتوبُ

ثم استعطفه بقصيدة أخرى يذكر فيها أنه متهم بالنية لا بالتنفيذ:

وَكُن فارِقًا بَينَ دَعوى أَرَدتُ *** وَدَعوى فَعَلتُ بِشَأوٍ بَعيدِ

فأطلق ابن كَيَغْلَغ سراحه بعد أن استتابه في مجلس لبعض أهل الحل والعقد فتاب وأشهد على نفسه أنه جحد ما كان من أمره وعاد إلى سبيل المسلمين (ص 103).

ودبَّج قصيدة في مدح الأمير التركي ادعى فيها أن نوره يبهر أكثر من الشمس، ولعله بعد حصوله على عفوه طمع في حظوته وماله:

يا مَن أَلوذُ بِهِ فيما أُؤَمِّلُهُ *** وَمَن أَعوذُ بِهِ مِمّا أُحاذِرُهُ

لا يَجبُرُ الناسُ عَظمًا أَنتَ كاسِرُهُ *** وَلا يَهيضونَ عَظمًا أَنتَ جابِرُهُ

فرفض الأمير استقباله أو سماع قصيدته، وأمره بترك الإقليم، فانتقل إلى حياة جديدة ليست بأقل بؤسًا وشقاء وبيعًا للكرامة وبذلًا للكبرياء، ثم البكاء على ما بذله وفرط فيه، وكان ينفي الدّين والناس جميعًا ولا يثبت إلا نفسه في ادعاء سمج كاذب هو أول من يعلم سماجته ويكذِّبه:

وَكُلُّ ما قَد خَلَقَ اللهُ وَما لَم يَخلُقِ *** مُحتَقَرٌ في هِمَّتي كَشَعرَةٍ في مَفرِقي

واقِفًا تَحتَ أَخمَصَي قَدرِ نَفسي *** واقِفًا تَحتَ أَخمَصَيَّ الأَنامُ

وَما أَنا مِنهُمُ بِالعَيشِ فيهِم *** وَلَكِن مَعدِنُ الذَهَبِ الرَّغامُ

12 ) وقد يرجع عن غيه حينًا فيبكت نفسه مدركًا ما وصل إليه من الذل والهوان:

ذَلَّ مَن يَغبِطُ الذَليلَ بِعَيشٍ *** رُبَّ عَيشٍ أَخَفُّ مِنهُ الحِمامُ

مَن يَهُن يَسهُلِ الهَوانُ عَلَيهِ *** ما لِجُرحٍ بِمَيِّتٍ إيلامُ

وَإِذا ما خَلا الجَبانُ بِأَرضٍ *** طَلَبَ الطَعنَ وَحدَهُ وَالنِزالا

ثم يعود إلى سوء ما كان عليه لا يتوب ولا يذّكر:

يمدح الوالي الفارسي فيجعل الفُرس فوق كل ذي أصل شريف وخير قدوة:

فارِسِيٌّ لَهُ مِنَ المَجدِ تاجُ *** كانَ مِن جَوهَرٍ عَلى أَبرَوازِ

نَفسُهُ فَوقَ كُلِّ أَصلٍ شَريفٍ *** وَلَوَ أَنّي لَهُ إِلى الشَمسِ عازي

وَبِآبائِكَ الكِرامِ التَأَسِّي *** وَالتَسَلّي عَمَّن مَضى وَالتَعازي

ويمدح الوالي ابن طفج الأخشيدي وقومه:

حَمَتهُ عَلى الأَعداءِ مِن كُلِّ جانِبٍ *** سُيوفُ بَني طُغجِ بنِ جُفِّ القَماقِمِ

هُمُ المُحسِنونَ الكَرَّ في حَومَةِ الوَغى *** وَأَحسَنُ مِنهُ كَرُّهُم في المَكارِمِ

ويمدح من يطمع في نواله بما يغضب الله؛ فيقول لأحد العلويين:

وَأَبهَرُ آياتِ التِهامِيِّ[2] أَنَّهُ *** أَبوكَ وإِحدَى ما لكُم مِن مَناقِبِ

ويقول لبدر بن عمار:

لَو كانَ عِلمُكَ بِالإِلَهِ مُقَسَّمًا *** في الناسِ ما بَعَثَ الإِلَهُ رَسولا

لَو كانَ لَفظُكَ فيهِمِ ما أَنزَلَ الـ *** قُرآنَ وَالتَوراةَ وَالإِنجيلا

طَلَبنا رِضاهُ بِتَركِ الَّذي *** رَضينا لَهُ فَتَرَكنا السُجودا

كلمة الشيخ سعد الحصين لموقعه

Januari 24, 2009

“إن الحمد لله، نحمده ونستعينه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا اله الا الله وحده لاشريك له وأن محمداً عبده ورسوله.

أما بعد: فان خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة” (من صحيح مسلم).

يقول كاتب هذه السطور (سعد بن عبد الرحمن الحصين) عفا الله عنه:

اختار الله لي، ولا راد لفضله، أن يتولى فضيلة الشيخ / عبد الحق التركماني تأسيس موقع باسمي على الانترنت يضم ما تيسر من مقال أو بحث أو كتاب ألفته أو هذبته أو اختصرته أو نشرته، فشكرت الله تعالى ثم شكرته، وزودته بما وجدته من كل ذلك صالحاً للنشر في نظري ونظره، راجياً من الله تعالى أن يجزي أخي في الدين والدعوة إليه على منهاج النبوة الشيخ عبد الحق خير جزائه وعظيم ثوابه على ما بذله من جهد في التأسيس والتنفيذ والإشراف والمتابعة لا طاقة لي به.

وأرجو الله تعالى أن يجعل عاقبة هذا الأمر خيراً للمشرف والكاتب والقارئ وأن يجبر النقص ويعفو عن التقصير.

وبما أنني قدمت ما يسر الله لي من إرادة ومحاولة الإصلاح في حدود علمي بشرع الله من وحيه تعالى في الكتاب والسنة بفهم فقهاء القرون الخيرة لنصوصه؛ فإن لي على المشرف والقارئ حق بيان ما يراه من خطأ (وكل ابن آدم خطاء)، نصيحة للإسلام والمسلمين (والدين النصيحة).

ولقد سبق لي (وسيلحق إن شاء الله) أن استدركت (رغم ضعفي) على خير علمائنا العاملين المجددين (وعلى رأسهم ابن باز والألباني رحمهما الله) بعداً عن التعصب والتحزب وهجراً لابتداع المتصوفة تقديس العلماء (وادعاء عصمتهم بلسان الحال أو المقال) وحذراً مما لبس به الحزبيون على الناس من دعوى الخلط بين بيان الحق الذي أمر الله به عباده وبين الغيبة التي نهاهم عنها، جهلاً منهم بالتمييز بينهما أو حمية وعصبية الجاهلية ستراً لعورات زعمائهم وأفرادهم الذين أتوا من انحرافهم عن منهج الوحي والفقه إلى منهج الفكر الضال. وهذا الموقع خلف صالح لسلف صالح أسسه وتولاه اثنان من خيرة طلاب العلم الدعاة إلى الله على بصيرة: فضيلة الشيخ عبد الله الهدلق وفضيلة الشيخ وليد الفنيح ثم توقف لسبب خارج عن إرادتهما جزاهما الله خير الجزاء وأجزل لهما الثواب.

تفسير سورة الرحمن

Januari 24, 2009

{بسم الله الرحمن الرحيم} البسملة تقدم الكلام عليها، {الرحمـن* علم القرءان* خلق الإنسان* علمه البيان} {الرحمـن } مبتدأ، وجملة {علم القرءان } خبر، {خلق الإنسان } خبر ثان، {علمه البيان } خبر ثالث، والمعنى أن هذا الرب العظيم، الذي سمى نفسه بالرحمن تفضل على عباده بهذه النعم، والرحمن هو ذو الرحمة الواسعة التي وسعت كل شيء، كما قال تعالى: {ورحمتي وسعت كل شيء}. وابتدأ هذه السورة بالرحمن عنواناً على أن ما بعده كله من رحمة الله تعالى، ومن نعمه {علم القرءان } أي: علمه من شاء من عباده، فعلمه جبريل عليه السلام أولاً، ثم نزل به جبريل على قلب النبي صلى الله عليه وسلم ثانياً، ثم بلغه محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم ثالثاً إلى جميع الناس، والقرآن هو هذا الكتاب العزيز الذي أنزله الله تعالى باللغة العربية، كما قال الله تعالى: {إنا جعلناه قرءاناً عربياً لعلكم تعقلون } وقـال تعالـى: {نزل به الروح الأَمين على قلبك لتكون من المنذرين بلسان عربي مبين} وتعليم القرآن يشمل تعليم لفظه، وتعليم معناه، وتعليم كيف العمل به، فهو يشمل ثلاثة أشياء، {خلق الإنسان } المراد الجنس، فيشمل آدم وذريته، أي: أوجده من العـدم، فالإنسـان كان معدوماً قبل وجوده، وقبل خلقه، قال الله – عز وجل -: {هل أتى على الإنسان حين من الدهر لم يكن شيئاً مذكوراً} يعني أتى عليه حين من الدهر قبل أن يوجد، وليس شيئاً مذكوراً ولا يعلم عنه، وبدأ الله تعالى بتعليم القرآن قبل خلق الإنسان إشارة إلى أن نعمة الله علينا بتعليم القرآن أشد وأبلغ من نعمته بخلق الإنسان وإلا فمن المعلوم أن خلق الإنسان سابق على تعليم القرآن، لكن لما كان تعليم القرآن أعظم منة من الله – عز وجل – على العبد قدمه على خلقه {علمه} أي: علم الإنسان {البيان }، أي: ما يبين به عما في قلبه، وأيضاً ما يستبين به عند المخاطبة، فهنا بيانان: البيان الأول من المتكلم، والبيان الثاني من المخاطب، فالبيان من المتكلم يعني التعبير عما في قلبه، ويكون باللسان نطقاً، ويكون بالبنان كتابة، فعندما يكون في قلبك شيء تريد أن تخبر به، تارة تخبر به بالنطق، وتارة بالكتابة، كلاهما داخل في قوله {علمه البيان }، وأيضاً {علمه البيان } كيف يستبين الشيء وذلك بالنسبة للمخاطب يعلم ويعرف وما يقول صاحبه، ولو شاء الله تعالى لأسمع المخاطب الصوت دون أن يفهم المعنى فالبيان سواء من المتكلم، أو من المخاطب كلاهما منة من الله – عز وجل – فهذه ثلاث نعم: {علم القرءان خلق الإنسان علمه البيان}.

{الشمس والقمر بحسبان} لما تكلم عن العالم السفلي بين العالم العلوي فقال: {الشمس والقمر بحسبان}أي: بحساب دقيق معلوم متقن منتظم أشد الانتظام، يجريان كما أمرهما الله – عز وجل – ولم تتغير الشمس والقمر منذ خلقهما الله عز وجل إلى أن يفنيهما يسيران على خط واحد، كما أمرهما الله، وهذا دليل على كمال قدرة الله تعالى، وكمال سلطانه، وكمال علمه أن تكون هذه الأجرام العظيمة تسير سيراً منظماً، لا تتغير على مدى السنين الطوال، {والنجم والشجر يسجدان } النجم اسم جنس، والمراد به النجوم تسجد لله – عز وجل – فهذه النجوم العليا التي نشاهدها في السماء تسجد لله – عز وجل – سجوداً حقيقياً، لكننا لا نعلم كيفيته، لأن هذا من الأمور التي لا تدركها العقول، والشجر يسجد لله عز وجل سجوداً حقيقياً، لكن لا ندري كيف ذلك، والله على كل شيء قدير، وانظر إلى الأشجار إذا طلعت الشمس تتجه أوراقها إلى الشمس تشاهدها بعينك، وكلما ارتفعت، ارتفعت الأشجار، وإذا مالت للغروب مالت، لكن هذا ليس هو السجود، إنما السجود حقيقة لا يُعلم، كما قال – عز وجل -: {تسبح له السماوات السبع والأَرض ومن فيهن وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولـكن لا تفقهون تسبيحهم إنه كان حليمًا غفورًا } فالنجوم كلها تسجد لله، والأشجار كلها تسجد لله – عز وجل – قال الله تعالى: {ألم تر أن الله يسجد له من في السماوات ومن في الأَرض والشمس والقمر والنجوم والجبال والشجر والدواب وكثير من الناس} ويقابله،{وكثير حق عليه العذاب} فلا يسجد – والعياذ بالله – {والسماء رفعها} يعني ورفع السماء ولم يحدد في القرآن الكريم مقدار هذا الرفع، لكن جاءت السنة بذلك، فهي رفيعة عظيمة ارتفاعاً عظيماً شاهقاً، {ووضع الميزان } أي: وضع العدل، والدليل على أن المراد بالميزان هنا العدل قوله تعالى: {لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان} يعني العدل، وليس المراد بالميزان هنا الميزان ذا الكفتين المعروف ولكن المراد بالميزان العدل، ومعنى وضع الميزان أي أثبته للناس، ليقوموا بالقسط أي بالعدل {ألا تطغوا في الميزان } يعني ألا تطغوا في العدل، يعني وضع العدل لئلا تطغوا في العدل فتجوروا، فتحكم للشخص وهو لا يستحق، أو على الشخص وهو لا يستحق، {وأقيموا الوزن بالقسط } ، يعني وزنكم للأشياء، أقيموه ولا تبخسوه فتنقصوا، لهذا قال: {ولا تخسروا الميزان } أي لا تخسروا الموزون، فصار الميزان يختلف في مواضعه الثلاثة: {ووضع الميزان } أي: العدل {ألا تطغوا في الميزان } لا تجوروا في الوزن {ولا تخسروا الميزان } أي: الموزون.

{والأَرض وضعها للأَنام } يعني: أن من نعم الله – عز وجل – أن الله وضع الأرض للأنام أي: أنزلها بالنسبة للسماء، والأنام هم الخلق، ففيها الإنس، وفيها الجن، وفيها الملائكة، تنزل بأمر الله – عز وجل – من السماء، وإن كان مقر الملائكة في السماء لكن ينزلون إلى الأرض، مثل الملكين اللذين عن اليمين وعن الشمال قعيد، والملائكة الذين يحفظون من أمر الله المعقبات، والملائكة الذين ينزلون في ليلة القدر وغير ذلك، {فيها}، أي في الأرض {فاكهة} أي: ثمار يتفكه بها الناس، وأنواع الفاكهة كثيرة، كالعنب والرمان والتفاح والبرتقال وغيرها {والنخل ذات الأَكمام } نص على النخل، لأن ثمرتها أفضل الثمار فهي حلوى وغذاء وفاكهة، وشجرتها من أبرك الأشجار وأنفعها، حتى إن النبي صلى الله عليه وسلم شبه النخلة بالمؤمن فقال: «إن من الشجر شجرة مثلها مثل المؤمن»، فخاض الصحابة – رضي الله عنهم – في الشجر حتى أخبرهم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنها النخلة (1) وقوله: {ذات الأَكمام } جمع كم وهو غلاف الثمرة، فإن ثمرة النخل أول ما تخرج يكون عليها كم قوي، ثم تنمو في ذلك الكم حتى يتفطر وتخرج الثمرة، {والحب ذو العصف} الحب يعني الذي يؤكل من الحنطة والذرة والدخن والأرز وغير ذلك، وقوله: {ذو العصف} يعني ما يحصل من ساقه عند يبسه وهو ما يعرف بالتبن؛ لأنه يعصف أي تطؤه البهائم بأقدامها حتى ينعصف، {والريحان } هذا الشجر ذو الرائحة الطيبة، فذكر الله في الأرض الفواكه، والنخل، والحب، والريحان، لأن كل واحد من هذه الأربع له اختصاص يختص به، وكل ذلك من أجل مصلحة العباد ومنفعتهم {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } الخطاب للجن والإنس، والاستفهام للإنكار، أي: أي نعمة تكذبون بها {خلق الإنسان من صلصال كالفخار } خلق الإنسان يعني جنسه من صلصال، والصلصال هو الطين اليابس الذي له صوت، عندما تنقره بظفرك يكون له صوت كالفخار، هو الطين المشوي، وهذا باعتبار خلق آدم عليه السلام، فإن الله خلقه من تراب، من طين، من صلصال كالفخار، من حمأ مسنون، كل هذه أوصاف للتراب ينتقل من كونه تراباً، إلى كونه طيناً، إلى كونه حمأ، إلى كونه صلصالاً، إلى كونه كالفخار، حتى إذا استتم نفخ الله فيه من روحه فصار آدمياً، {وخلق الجآن} وهم الجن {من مارج من نار }، المارج هو المختلط الذي يكون في اللهب إذا ارتفع صار مختلطاً بالدخان، فيكون له لون بين الحمرة والصفرة، فهذا هو المارج من نار، والجان، خلق قبل الإنس، ولهذا قال إبليس لله – عز وجل -: {أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين } {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } أي: بأي نعمة من نعم الله تكذبون، حيث خلق الله – عز وجل – الإنسان من هذه المادة، والجن من هذه المادة، وأيهما خير التراب أم النار؟ التراب خير، لا شك فيه، ومن أراد أن يطلع على ذلك فليرجع إلى كلام ابن القيم – رحمه الله – في كتاب «إغاثة اللهفان من مكائد الشيطان» {رب المشرقين ورب المغربين } يعني هو رب، فهي خبر مبتدأ محذوف، والتقدير: هو رب المشرقين ورب المغربين، يعني أنه مالكهما ومدبرهما، فما من شيء يشرق إلا بإذن الله، ولا يغرب إلا بإذن الله وما من شيء يحوزه المشرق والمغرب إلا لله – عز وجل – وثنى المشرق هنا باعتبار مشرق الشتاء ومشرق الصيف، فالشمس في الشتاء تشرق من أقصى الجنوب، وفي الصيف بالعكس، والقمر في الشهر الواحد يشرق من أقصى الجنوب ومن أقصى الشمال، وفي آية أخرى قال الله تعالى: {فلا أقسم برب المشارق والمغارب} فجمعها، وفي آية ثالثة {رب المشرق والمغرب لا إلـه إلا هو فاتخذه وكيلاً } فما الجمع بينها؟ نقول: أما التثنية فباعتبار مشرقي الشتاء والصيف،أما جمع المغارب والمشارق فباعتبار مشرق كل يوم ومغربه، لأن الشمس كل يوم تشرق من غير المكان الذي أشرقت منه بالأمس، فالشمس يتغير شروقها وغروبها كل يوم، ولاسيما عند تساوي الليل والنهار، فتجد الفرق دقيقة، أو دقيقة ونصفاً بين غروبها بالأمس واليوم، وكذلك الغروب، أو باعتبار الشارقات والغاربات، لأنها تشمل الشمس والقمر والنجوم، وهذه لا يحصيها إلا الله – عز وجل -، أما قوله: {رب المشرق والمغرب} فباعتبار الناحية، لأن النواحي أربع: مشرق، ومغرب، وشمال، وجنوب، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } أي: بأي شيء من نعم الله تكذبان يا معشر الجن والإنس؟ فما جوابنا على هذه الاستفهامات بهذه الآيات كلها؟ جوابنا: ألا نكذب بشيء من آلائك يا ربنا، ولهذا ورد حديث في إسناده ضعف عن جابر رضي الله عنه قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على أصحابه، فقرأ عليهم سورة الرحمن من أولها إلى آخرها، فسكتوا، فقال: «لقد قرأتها على الجن، ليلة الجن، فكانوا أحسن مردوداً منكم، كنت كلما أتيت على قوله{فبأي ءالآء ربكما تكذبان } قالوا: لا بشيء من نعمك ربنا نكذب، فلك الحمد». لكن هذا الحديث ضعيف (2) ، يذكره المفسرون هنا، وكل آية أعقبت {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } فهي تتضمن نعماً عظيمة، فما النعم التي يتضمنها اختلاف المشرق والمغرب؟ النعم ما يترتب على ذلك من مصالح الخلق: صيفاً، وشتاء، ربيعاً، وخريفاً، وغير ذلك مما لا نعلم، فهي نعم عظيمة باختلاف المشرق والمغرب، ثم قال سبحانه وتعالى: {مرج البحرين يلتقيان } مرج بمعنى أرسل البحرين، يعني المالح والعذب {يلتقيان }، يلتقي بعضهما ببعض، البحر المالح هذه البحار العظيمة، البحر الأحمر، والبحر الأبيض، والبحر الأطلسي، وهذه البحار كلها مالحة، وجعلها الله تبارك وتعالى مالحة، لأنها لو كانت عذبة لفسد الهواء وأنتنت، لكن الملح يمنع الإنتان والفساد، والبحر الآخر البحر العذب وهو الأنهار التي تأتي: إما من كثرة الأمطار، وإما من ثلوج تذوب وتسيح في الأرض، فالله سبحانه وتعالى أرسلهما بحكمته وقدرته حيث شاء – عز وجل – {يلتقيان } أي: يلتقي بعضهما ببعض عند مصب النهر في البحر فيمتزج بعضهما ببعض، لكن حين سيرهما أو حين انفرادهما، يقول الله – عز وجل -: {بينهما برزخ} وهو اليابس من الأرض {لا يبغيان } أي: لا يبغي أحدهما على الآخر، ولو شاء الله تعالى لسلط البحار ولفاضت على الأرض وأغرقت الأرض، لأن البحر عندما تقف على الساحل لا تجد جداراً يمنع انسيابه إلى اليابس مع أن الأرض كروية، ومع ذلك لا يسيح البحر لا هاهنا، ولا هاهنا بقدرة الله عز وجل، ولو شاء الله – سبحانه وتعالى – لساحت مياه البحر على اليابس من الأرض ودمرتها، إذن البرزخ الذي بينهما هو اليابس من الأرض هذا قول علماء الجغرافيا، وقال بعض أهل العلم: بل البرزخ أمر معنوي يحول بين المالح والعذب أن يختلط بعضهما ببعض، وقالوا: إنه يوجد الآن في عمق البحار عيون عذبة تنبع من الأرض، حتى إن الغواصين يغوصون إليها ويشربون منها كأعذب ماء، ومع ذلك لا تفسدها مياه البحار، فإذا ثبت ذلك فلا مانع من أن نقول بقول علماء الجغرافيا وقول علماء التفسير، والله على كل شيء قدير {فبأي ءالآء ربكما تكذبان يخرج منهما اللؤلؤ والمرجان} أي: يخرج من البحرين العذب والمالح اللؤلؤ والمرجان، وهو قطع من اللؤلؤ أحمر جميل الشكل واللون مع أنها مياه، وقوله تعالى: {منهما} أضاف الخروج إلى البحرين العذب والمالح، وقد قيل: إن اللؤلؤ لا يخرج إلا من المالح ولا يخرج من العذب، والذين قالوا بهذا اضطربوا في معنى الآية، كيف يقول الله {منهما} وهو من أحدهما؟ فأجابوا: بأن هذا من باب التغليب، والتغليب أن يغلب أحد الجانبين على الآخر، مثلما يقال: العمران، لأبي بكر وعمر، ويقال: القمران، للشمس والقمر، فهذا من باب التغليب، فـ {منهما} المراد واحد منهما، وقال بعضهم: بل هذا على حذف مضاف، والتقدير: يخرج: من أحدهما، وهناك قول ثالث: أن تبقى الآية على ظاهرها لا تغليب ولا حذف، ويقول {منهما} أي: منهما جميعاً يخرج اللؤلؤ والمرجان، وإن امتاز المالح بأنه أكثر وأطيب.

فبأي هذه الأقوال الثلاثة، نأخذ؟ نأخذ بما يوافق ظاهر القرآن، فالله – عز وجل – يقول: {يخرج منهما} وهو خالقهما وهو يعلم ماذا يخرج منهما، فإذا كانت الآية ظاهرها أن اللؤلؤ يخرج منهما جميعاً وجب الأخذ بظاهرها، لكن لا شك أن اللؤلؤ من الماء المالح أكثر وأطيب، لكن لا يمنع أن نقول بظاهر الآية، بل يتعين أن نقول بظاهر الآية، وهذه قاعدة في القرآن والسنة: إننا نحمل الشيء على ظاهره، ولا نؤول، اللهم إلا لضرورة، فإذا كان هناك ضرورة، فلابد أن نتمشى على ما تقتضيه الضرورة، أما بغير ضرورة فيجب أن نحمل القرآن والسنة على ظاهرهما {فبأي ءالاء ربكما تكذبان } لأن ما في هذه البحار وما يحصل من المنافع العظيمة، نِعم كثيرة لا يمكن للإنسان أن ينكرها أبداً.

{وله الجوار المنشئات في البحر كالأَعلام } أي لله – عز وجل – ملكاً وتدبيراً وتيسيراً {الجوار} بحذف الياء للتخفيف، وأصلها الجواري جمع جارية، وهي السفينة تجري في البحر كما قال الله – عز وجل -: {ألم تر أن الفلك تجرى في البحر بنعمت الله} {المنشئات} أي: التي أنشأها صانعوها ليسيروا عليها في البحر، وقوله: {في البحر} متعلق بالجواري أي الجواري في البحر، وليست فيما يظهر متعلقة بالمنشآت، يعني الجواري التي تصنع في البحر، لأن السفن تصنع في البر أولاً، ثم تنزل في البحر، وقوله: {كالأَعلام } تشبيه، والأعلام جمع علم وهو الجبل، كما قال الشاعر:

وإن صخراً لتأتم الهداة به كأنه علم في رأسه نار

كأنه جبل، ومن شاهد السفن في البحار رأى أن هذا التشبيه منطبق تماماً عليها، فهي كالجبال تسير في البحر بأمر الله – عز وجل -، وإنما نص الله عليها لأنها تحمل الأرزاق من جانب إلى جانب، ولولا أن الله تعالى يسرها لكان في ذلك فوات خير كثير للبلاد التي تنقل منها والبلاد التي تنقل إليها، وفي هذا العصر جعل الله تبارك وتعالى جواري أخرى، لكنها تجري في الجو، كما تجري هذه في البحر، وهي الطائرات، فهي منة من الله – عز وجل – كمنته على عباده في جواري البحار، بل ربما نقول: إن السيارات أيضاً من جواري البر، فتكون الجواري ثلاثة أصناف: بحرية، وبرية، وجوية، وكلها من نعم الله – عز وجل -، ولهذا قال: {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } أي بأي: نعمة من نعم الله تكذبان، والخطاب للإنس والجن، ثم قال – عز وجل -: {كل من عليها} أي: كل من على الأرض {فان } أي: ذاهب من الجن والإنس والحيوان والأشجار، قال الله تبارك وتعالى: {إنا جعلنا ما على الأَرض زينةً لها لنبلوهم أيهم أحسن عملاً وإنا لجاعلون ما عليها صعيداً جرزاً} أي: خالية، وقال الله تعالى: {ويسئلونك عن الجبال فقل ينسفها ربي نسفاً فيذرها قاعاً صفصفاً} أي: يذر الأرض قاعاً صفصفاً، أو يذر الجبال بعد أن كانت عالية شامخة قاعاً كالقيعان مساوية لغيرها، صفصفاً لا ترى فيها عوجاً ولا أمتاً، {ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام } أي: يبقى الله – عز وجل – ذو الوجه الكريم، وكان بعض السلف إذا قرأ هاتين الآيتين وصل بعضهما ببعض، قال: ليتبين بذلك كمال الخالق ونقص المخلوق (3) ؛ لأن المخلوق فانٍ والرب باقٍ، وهذه الملاحظة جيدة أن تصل فتقول: {كل من عليها فان ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام} وهذا هو محط الثناء والحمد على الله – عز وجل – أن تفنى الخلائق ويبقى الله – عز وجل – وقوله تعالى: {ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام } فيه إثبات الوجه لله – سبحانه وتعالى – ولكنه وجه لا يشبه أوجه المخلوقين، لقوله تعالى: {ليس كمثله شيء وهو السميع البصير } يعني أنت تؤمن بأن لله وجهاً، لكن يجب أن تؤمن بأنه لا يماثل أوجه المخلوقين بأي حال من الأحوال، لقوله تعالى: {ليس كمثله شيء وهو السميع البصير } ولما ظن بعض أهل التعطيل أن إثبات الوجه يستلزم التمثيل أنكروا أن يكون لله وقالوا: المراد بقوله {ويبقى وجه ربك} أي ثوابه، أو أن كلمة {وجه} زائدة، وأن المعنى: ويبقى ربك! ولكنهم ضلوا سواء السبيل، وخرجوا عن ظاهر القرآن وحرفوه وخرجوا عن طريق السلف الصالح، ونحن نقول: إن لله وجهاً، لإثباته له في هذه الآية، ولا يماثل أوجه المخلوقين لنفي المماثلة في قوله: {ليس كمثله شيء وهو السميع البصير } وبذلك نسلم ونجري النصوص على ظاهرها، المراد بها، وقوله: {ذو الجلال} أي: ذو العظمة {والإكرام } أي: إكرام من يطيع الله – عز وجل – كما قال تعالى: {أولـئك في جنات مكرمون } فالإكرام أي أنه يكرم من يستحق الإكرام من خلقه، ويحتمل أن يكون لها معنى آخر وهو أنه يُكْرَم من أهل العبادة من خلقه، فيكون الإكرام هذا المصدر صالحاً للمفعول والفاعل، فهو مكرَم ومكرِم {فبأي ءالآء ربكما تكذبان} وهذه الآية تكررت عدة مرات في هذه السورة، ومعناها أنه بأي نعمة من نعم الله تكذبان يا معشر الجن والإنس، وهذا كالتحدي لهم، لأنه لن يستطيع أحد أن يأتي بمثل هذه النعم، ثم قال سبحانه وتعالى: {يسأله من في السموات والأَرض كل يوم هو في شأن } أي: يسأل الله من في السماوات والأرض، والذي في السماوات هم الملائكة يسألون الله – عز وجل – ومن سؤالهم أنهم {ويستغفرون للذين آمنوا ربنا وسعت كـل شيء رحمةً وعلماً فاغفر للذين تابوا واتبعوا سبيلك وقهم عذاب الجحيم } إلى آخره، ويسأله من في الأرض من الخلائق، وسؤال أهل الأرض لله – عز وجل – قسمان: الأول: السؤال بلسان المقال، وهذا إنما يكون من المؤمنين، فالمؤمن يسأل ربه دائماً حاجاته، لأنه يعلم أنه لا يقضيها إلا الله – عز وجل – وسؤال المؤمن ربه عبادة، سواء حصل مقصوده أم لم يحصل، فإذا قلت: يا رب أعطني كذا. فهذه عبادة، كما جاء في الحديث: «الدعاء عبادة (4) ». وقال تعالى {وقال ربكـم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين } فقال {ادعوني} ثم قال: {إن الذين يستكبرون عن عبادتي} وهذا دليل على أن الدعاء عبادة، النوع الثاني: دعاء بلسان الحال، وهو أن كل مخلوق مفتقر إلى الله ينظر إلى رحمته، فالكفار مثلاً ينظرون إلى الغيث النازل من السماء، وإلى نبات الأرض، وإلى صحة الحيوان، وإلى كثرة الأرزاق وهم يعلمون إنهم لا يستطيعون أن يجدوا ذلك بأنفسهم، فهم إذن يسألون الله بلسان الحال، ولذلك إذا مستهم ضراء اضطروا إلى سؤال الله بلسان المقال {وإذا غشيهم موج كالظلل دعوا الله مخلصين له الدين}. {كل يوم هو في شأن } من يحصي الأيام؟ لا أحد إلا الله – عز وجل – ومن يحصي الشهور؟ لا أحد إلا الله – عز وجل – {كل يوم هو في شأن }، يغني فقيراً، ويفقر غنيًّا، ويمرض صحيحاً، ويشفي سقيماً، ويؤمّن خائفاً ويخوف آمناً، وهلم جرا، كل يوم يفعل الله تعالى ذلك، هذه الشئون التي تتبدل عن حكمة ولا شك، قال الله تعالى: {أفحسبتم أنما خلقناكم عبثاً وأنكم إلينا لا ترجعون } وقال تعالى: {أيحسب الإنسان أن يترك سدًى } فنحن نؤمن أن الله لا يقدر قدراً إلا لحكمة، لكن قد نعلم هذه الحكمة وقد لا نعلم، ولهذا قال: {كل يوم هو في شأن }، ولكن اعلم أيها المؤمن أن الله تعالى لا يقدر لك قدراً إلا كان خيراً لك، إن أصابتك ضراء فاصبر وانتظر الفرج، وقل: الحمد لله على كل حال. وكما يقال: دوام الحال من المحال، فينتظر الفرج فيكون خيراً له، وإن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وليس هذا لأحد إلا للمؤمن {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } نقول فيها ما قلنا في الآيات السابقة أن المعنى بأي نعمة من نعم الله تكذبان؟ والجواب: لا نكذب بشيء من نعم الله، بل نقول: هي من عند الله، فله الحمد وله الشكر، ومن نسب النعمة إلى غير الله فهو مكذب. وإن لم يقل إنه مكذب قال الله تعالى: {وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون } وهذه الآية يعني بها قولهم: مطرنا بنوء كذا وكذا، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم وهو يحدث أصحابه على إثر مطر كان، قال لهم بعد صلاة الصبح: «هل تدرون ماذا قال ربكم»؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: «قال: أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مطرنا بفضل الله ورحمته، فذلك مؤمن بي، كافر بالكوكب، وأما من قال: مطرنا بنوء كذا، وكذا، فذلك كافر بي، مؤمن بالكوكب» (5) .

{سنفرغ لكم أيها الثقلان فبأي ءالآء ربكما تكذبان} هذه الجملة المقصود بها الوعيد، كما يقول قائل لمن يتوعده سأتفرغ لك، وأجازيك. وليس المعنى أن الله تعالى يشغله شأن عن شأن ثم يفرغ من هذا، ويأتي إلى هذا، هو سبحانه يدبر كل شيء في آن واحد في مشارق الأرض ومغاربها وفي السماوات، وفي كل مكان يدبره في آن واحد، ولا يعجزه. فلا تتوهمن أن قوله: {سنفرغ} أنه الآن مشغول وسيفرغ. بل هذه جملة وعيدية تعبر بها العرب، والقرآن الكريم نزل بلغة العرب وفي قوله: {سنفرغ لكم} من التعظيم ما هو ظاهر حيث أتى بضمير الجمع، {سنفرغ} تعظيماً لنفسه – جل وعلا – وإلا فهو واحد، وقوله: {أيها الثقلان } يعني الجن والإنس، وإنما وجه هذا الوعيد إليهما، لأنهما مناط التكليف، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } سبق تفسيرها فلا حاجة إلى التكرار {يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموات والأَرض فانفذوا} بعد الوعيد قال: {إن استطعتم أن تنفذوا} أي: مما نريده بكم {من أقطـر السموات والأَرض فانفذوا} ولكنكم لا تستطيعون هذا، فالأمر هنا للتعجيز، ولهذا قال: {لا تنفذون إلا بسلطان } يعني ولا سلطان لكم، ولا يمكن أحد أن ينفذ من أقطار السماوات والأرض إلى أين يذهب؟ لا يمكن ثم قال: {فبأي ءالآء ربكما تكذبان يرسل عليكما شواظ من نار} يعني لو استطعتم، أو لو حاولتم لكان هذا الجزاء {يرسل عليكما شواظ من نار ونحاس} أي: محمى بالنار {فلا تنتصران} أي: فلا ينصر بعضكم بعضاً، وهذه الآية في مقام التحدي، وقد أخطأ غاية الخطأ من زعم أنها تشير إلى ما توصل إليه العلماء من الطيران، حتى يخرجوا من أقطار الأرض ومن جاذبيتها، وإلى أن يصلوا كما يزعمون إلى القمر أو إلى ما فوق القمر، فالآية ظاهرة في التحدي، والتحدي هو توجيه الخطاب إلى من لا يستطيع، ثم نقول: إن هؤلاء هل استطاعوا أن ينفذوا من أقطار السماوات، لو فرضنا أنهم نفذوا من أقطار الأرض ما نفذوا من أقطار السماوات، فالآية واضحة أنها في مقام التحدي، وأنها لا تشير إلى ما زعم هؤلاء أنها تشير إليه، ونحن نقول الشيء الواقع لا نكذبه، ولكن لا يلزم من تصديقه أن يكون القرآن دل عليه أو السنة، الواقع واقع، فهم خرجوا من أقطار الأرض، وهذا واقع لا يحتاج إلى دليل، وهذه الآية في سياقها إذا تأملتها وجدت أن هذا التحدي يوم القيامة، لأنه قال: {كل من عليها فان }، ثم ذكر {يسأله من في السماوات والأَرض} ثم ذكر {يا معشر الجن}، ثم ذكر ما بعدها يوم القيامة، {فإذا انشقت السماء} يعني تفتحت وذلك يوم القيامة، كما قال تعالى: {إذا السماء انشقت وأذنت لربها وحقت وإذا الأرض مدت وألقت ما فيها وتخلت وأذنت لربها وحقت أيها الإنسان إنك كادح إلى ربك كدحاً فملاقيه} {فكانت وردةً} أي: مثل الوردة في الحمرة {كالدهان }، كالجلد المدهون، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } {فيومئذ} أي: إذا انشقت {لا يسئل عن ذنبه إنس ولا جآن } لماذا؟ لأن كل شيء معلوم، والمراد لا يسأل سؤال استرشاد واستعلام، لأن كل شيء معلوم، أما سؤال تبكيت فيسأل مثل قوله تعالى: {ويوم يناديهم فيقول ماذا أجبتم المرسلين فعميت عليهم الأَنبـاء يومئذ فهم لا يتساءلون} وقال – عز وجل -: {إلا أصحاب اليمين في جنات يتساءلون عن المجرمين ما سلككم في سقر قالوا لم نك من المصلين} وقال – عز وجل – لأهل النار وهم يلقون فيها: {أولم تك تأتيكم رسلكم بالبينات قالوا بلى} وأمثالها كثير، إذن لا يسأل عن ذنبه سؤال استرشاد واستعلام، وإنما يسألون سؤال تبكيت وتوبيخ، وما جاء من سؤال الإنس والجن عن ذنوبهم: هل أنت عملت أو لم تعمل؟ فهو سؤال تبكيت وتوبيخ، وهناك فرق بين سؤال الاسترشاد وسؤال التوبيخ فلا تتناقض الآيات، فما جاء أنهم يسألون فهو سؤال توبيخ، وما جاء أنهم لا يسألون فهو سؤال استرشاد واستعلام، لأن الكل معلوم ومكتوب، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان يعرف المجرمون بسيماهم} أي: بعلامتهم يعرفون، ومن علاماتهم – والعياذ بالله – أنهم سود الوجوه، قال الله تعالى: {يوم تبيض وجوه وتسود وجوه} وأنهم يحشرون يوم القيامة زرقاً إما أنهم زرق أحياناً وسود أحياناً، وإما أنهم سود الوجوه زرق العيون، وإما أنهم زرق زرقة يعني بالغة يحسبها الإنسان سوداء {يعرف المجرمون بسيمـهم فيؤخذ بالنواصي والأَقدام } النواصي مقدم الرأس، والأقدام معروفة، فتؤخذ رجله إلى ناصيته، هكذا يطوى طيًّا إهانة له وخزياً له، فيؤخذ بالنواصي والأقدام، ويلقون في النار {فبأي ءالآء ربكما تكذبان هـذه جهنم التى يكذب بها المجرمون} يعني يقال هذه جهنم التي تكذبون بها، وقال {المجرمون } ولم يقل: تكذبون بها، إشارة إلى أنهم مجرمون، وما أعظم جرم الكفار الذين كفروا بالله ورسوله، واستهزؤا بآيات الله واتخذوها هزواً ولعباً، {يطوفون بينها} أي: يترددون بينها {وبين حميم ءان } أي: شديد الحرارة – والعياذ بالله -. أما كيف يكون ذلك فالله أعلم، لكننا نؤمن بأنهم يطوفون بينها وبين الحميم الحار الشديد الحرارة، والله أعلم بذلك، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان }، ثم ذكر جزاء أهل الجنة فقال: {ولمن خاف مقام ربه جنتان } يعني أن من خاف المقام بين يدي الله يوم القيامة، فإن له جنتين. وهذا الخوف يستلزم شيئين: الشيء الأول: الإيمان بلقاء الله – عز وجل – لأن الإنسان لا يخاف من شيء إلا وقد تيقنه. والثاني: أن يتجنب محارم الله، وأن يقوم بما أوجبه الله خوفاً من عقاب الله تعالى، فعليه يلزم كل إنسان أن يؤمن بلقاء الله – عز وجل -، لقوله تعالى: {يا أيها الإنسان إنك كادح إلى ربك كدحاً فملاقيه } وقال تعالى: {واتقوا الله واعلموا أنكم ملاقوه وبشر المؤمنين}، وأن يقوم بما أوجبه الله، وأن يجتنب محارم الله فمن خاف هذا المقام بين يدي الله – عز وجل – فله جنتان {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } سبق الكلام عليها {ذواتآ أفنان} أي صاحبتا أفنان، والأفنان جمع فنن وهو الغصن، أي أنهما مشتملتان على أشجار عظيمة ذواتي أغصان كثيرة وهذه الأغصان كلها تبهج الناظرين {فبأي ءالآء ربكما تكذبان }، ثم قال {فيهما عينان تجريان } أي: في الجنتين عينان تجريان، وقد ذكر الله تعالى أن في الجنة أنهاراً من أربعة أصناف، فقال – جل وعلا -: {مثل الجنة التى وعد المتقون فيهآ أنهار من ماء غير ءاسن وأنهار من لبن لم يتغير طعمه وأنهار من خمر لذة للشاربين وأنهار من عسل مصفى} والعينان اللتان تجريان، يظهر – والله أعلم – أنهما سوى هذه الأنهار الأربعة{فبأي ءالآء ربكما تكذبان } وقوله: {فيهما من كل فاكهة زوجان } أي: في هاتين الجنتين من كل فاكهة،والفاكهة كل ما يتفكه الإنسان به مذاقاً ونظراً، فيشمل أنواع الفاكهة الموجودة في الدنيا، وربما يكون هناك فواكه أخرى ليس لها نظير في الدنيا، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } {متكئين على فرش بطآئنها من إستبرق وجنى الجنتين دان } أي: يتنعمون بهذه الفاكهة حال كونهم متكئين، وعلى هذا فكلمة متكئين حال من فاعل والفعل المحذوف، أي: يتنعمون ويتفكهون، متكئين، والاتكاء قيل: إنه التربع، لأن الإنسان أريح ما يكون إذا كان متربعاً، وقيل {متكئين} أي: معتمدين على مساند من اليمين والشمال ووراء الظهر {على فرش} يعني جالسين {على فرش بطآئنها من إستبرق} يعني بطانة الفراش وهو ما يدحى به الفراش من استبرق وهو غليظ الديباج، وأما أعلى هذه الفرش فهو من سندس، وهو رقيق الديباج، وكله من الحرير {وجنى الجنتين دان } تأمل أو تصور هذه الحال إنسان متكىء مطمئن مستريح يريد أن يتفكه من هذه الفواكه هل يقوم من مكانه الذي هو مستقر فيه متكىء فيه ليتناول الثمرة؟ بيّن الله بقوله تعالى ذلك {وجنى الجنتين دان } قال أهل العلم: إنه كلما نظر إلى ثمرة وهو يشتهيها، مال الغصن حتى كانت الثمرة بين يديه لا يحتاج إلى تعب وإلى قيام، بل هو متكىء، ينظر إلى الثمرة مشتهياً إياها، فتتدلى له بأمر الله – عز وجل – مع أنها جماد، لكن الله تعالى أعطاها إحساساً بأن تتدلى عليه إذا اشتهاها ولا تستغرب فهاهي الأشجار في الغالب تستقبل الشمس، انظر إلى وجوه الأوراق أول النهار تجدها متجهة إلى المشرق، وفي آخر النهار تجدها متجهة إلى المغرب ففيها إحساس، كذلك أيضاً جنى الجنتين دان قريب يحس، إذا نظر إليه الرجل أو المرأة فإنه يتدلى حتى يكون بين يديه، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان فيهن قاصرات الطرف} {فيهن} أكثر العلماء يقولون: إن الضمير يعود إلى الجنتين، وأن الجمع باعتبار أن لكل واحد من الناس جنة خاصة به، فيكون {فيهن} أي في جنة كل واحد ممن هو في هاتين الجنتين قاصرات الطرف، وعندي أن قوله {فيهن} يشمل الجنات الأربع، هاتين الجنتين، والجنتين اللتين بعدهما، {قاصرات الطرف} يعني أنها تقصر طرفها أي نظرها على زوجها فلا تريد غيره، والوجه الآخر: قاصرات الطرف، أي: أنها تقصر طرف زوجها عليها فلا يريد غيرها، وعلى القول الأول يكون قاصرات مضافة إلى الفاعل، وعلى الثاني مضاف إلى المفعول {لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جآن } أي: لم يجامعهن، وقيل: إن الطمث مجامعة البكر، والمعنى أنهن أبكار لم يجامعهن أحد من قبل لا إنس ولا جن، وفي هذا دليل واضح على أن المؤمنين من الجن يدخلون الجنة، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان كأنهن الياقوت والمرجان} أي: في الحسن والصفاء كالياقوت والمرجان، وهما جوهران نفيسان، الياقوت في الصفاء، والمرجان في الحمرة، يعني أنهن مشربات بالحمرة مع صفاء تام {فبأي ءالآء ربكما تكذبان }، ثم قال – عز وجل -: {هل جزاء الإحسان إلا الإحسان } يعني ما جزاء الإحسان إلا الإحسان، الإحسان الأول: العمل، والإحسان الثاني: الثواب، أي: ما جزاء إحسان العمل إلا إحسان الثواب، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان ومن دونهما جنتان} أي: من دون الجنتين السابقتين جنتان من نوع آخر، وقد جاء ذلك مبيناً في السنة، حيث قال النبي صلى الله عليه وسلم : «جنتان من ذهب آنيتهما، وما فيهما وجنتان من فضة آنيتهما وما فيهما (6) » والآية صريحة أن هاتين الجنتين دون الأوليان {فبأي ءالآء ربكما تكذبان مدهآمتان} أي: سوداوان من كثرة الأشجار {فبأي ءالآء ربكما تكذبان فيهما عينان نضاختان} أي: تنضخ بالماء، أي: تنبع، وفي الجنتين السابقتين قال: {فيهما عينان تجريان }، والجري أكمل من النبع، لأن النبع لايزال في مكانه لكنه لا ينضب، أما الذي يجري فإنه يسيح، فهو أعلى وأكمل، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان فيهما فاكهة ونخل ورمان } وهناك يقول: {فيهما من كل فاكهة زوجان }، أما هذا فقال {فيهما فاكهة ونخل ورمان }، والنخل والرمان معروفان في الدنيا، ولكن يجب أن تعلم أنه لا يستوي هذا وهذا. الاسم واحد والمسمى يختلف اختلافاً كثيراً، ودليل ذلك قوله تعالى: {فلا تعلم نفس مآ أخفي لهم من قرة أعين جزاءً بما كانوا يعملون } ولو كانت النخل والرمان كالنخل والرمان في الدنيا لكنا نعلم، لكننا لا نعلم، فالاسم واحد، ولكن الحقيقة مختلفة، ولهذا قال ابن عباس – رضي الله عنهما -: «ليس في الجنة مما في الدنيا إلا الأسماء فقط» (7) ، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان فيهن خيرات حسان} {فيهن} وهذا جمع، وقد قال قبل ذلك {فيهما}، لأن هذا الجمع يعود على الجنان الأربع، ففي الجنان الأربع قاصرات الطرف كما سبق، وفي الجنان الأربع {خيرات حسان } أي: في الأخلاق. الأخلاق طيبة، حسان الوجوه والبدن، فالأول حسن الباطن وهذا حسن الظاهر {فبأي ءالآء ربكما تكذبان * حور مقصورات في الخيام} الحوراء هي الجميلة، التي جملت في جميع خلقها، وبالأخص العين: شديدة البياض، شديدة السواد، واسعة مستديرة من أحسن ما يكون، {مقصورات} أي: مخبئات، {في الخيام }: جمع خيمة، والخيمة معروفة هي بناء له عمود وأروقة، لكن الخيمة في الآخرة ليست كالخيمة في الدنيا، بل هي خيمة من لؤلؤة طولها في السماء مرتفع جداً، ويرى من في باطنها من ظاهرها، ولا تسأل عن حسنها وجمالها، هؤلاء الحور مقصورات مخبئات في هذه الخيام على أكمل ما يكون من الدلال والتنعيم {لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جآن } يعني لم يجامعهن أحد، بل هي باقية على بكارتها إلى أن يغشاها زوجها، جعلنا الله منهم، {ولا جآن } أي: ولا جن، وهذا يدل على أن الجن يدخلون الجنة مع الإنس وهو كذلك، لأن الله لا يظلم أحداً، والجن منهم صالحون، ومنهم دون ذلك، ومنهم مسلمون ومنهم كافرون، كالإنس تماماً، كما أن الإنس فيهم مطيع وعاصٍ، وفيهم كافر ومؤمن، كذلك الجن، والجن المسلم فيه خير، ويدل على الخير، وينبىء بالخير، ويساعد أهل الصلاح من الإنس، والجن الفاسق أو الكافر مثل الفاسق أوالكافر من بني آدم سواء بسواء، وكافرهم يدخل النار ، بإجماع المسلمين كما في القرآن: {قال ادخلوا في أمم قد خلت من قبلكم من الجن والإنس في النار} وهذا نص القرآن، وأجمع العلماء على أن الكافر من الجن يدخل النار، ومؤمن الجن يدخل الجنة، وقوله تعالى: {لم يطمثهن إنس قبلهم ولا جآن } يدل على أن الجن يدخلون الجنة، وهو كذلك {فبأي ءالآء ربكما تكذبان متكئين على رفرف خضر وعبقري حسان} أي: معتمدين بأيديهم وظهورهم {على رفرف} أي: على مساند ترفرف مثل ما يكون على أطراف المساند، ويكون في الأسرّة، هكذا يرفرف، {متكئين على رفرف خضر}، لأن اللون الأخضر أنسب ما يكون للنظر، وأشد ما يكون بهجة للقلب، {وعبقري حسان }، العبقري هو الفرش الجيدة جداً، ولهذا يسمى الجيد من كل شيء عبقري، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية التي رآها حين نزع عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: «فما رأيت عبقرياً يفري فريه» (8) أي: ينزع نزعه: من قوته رضي الله عنه، {فبأي ءالآء ربكما تكذبان } المعنى التقرير، يعني أن النعم واضحة فبأي شيء تكذبون؟ الجواب: لا نكذب بشيء، نعترف بآلاء الله ونعمه ونقر بها ونعترف بأننا مقصرون، لم نشكر الله تعالى حق شكره، ولكننا نؤمن بأن الله أوسع من ذنوبنا، وأن الله تبارك وتعالى عفو كريم يحب توبة عبده، ويحب التوابين، ويحب المتطهرين، حتى قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «لله أشد فرحاً بتوبة عبده من أحدكم» وذكر الرجل في فلاة أضل راحلته، وعليها طعامه وشرابه، فطلبها ولم يجدها، فأيس منها فاضطجع في ظل شجرة ينتظرالموت، آيس من الحياة، فإذا بخطام ناقته متعلقاً بالشجرة، فأخذه وقال:«اللهم أنت عبدي وأنا ربك» (9) ، يريد أنت ربي وأنا عبدك، لكن من شدة الفرح أخطأ فقال: «اللهم أنت عبدي وأنا ربك»، فالله تعالى أشد فرحاً بتوبة عبده من هذا الرجل بناقته، اللهم تب علينا يا رب العالمين {تبارك اسم ربك ذي الجلال والإكرام } ختم الله تبارك وتعالى هذه السورة بهذه الجملة العظيمة، أي ما أعظم بركة الله – عز وجل – وما أعظم البركة باسمه، حتى إن اسم الله يحلل الذبيحة أو يحرمها، لو ذبح الإنسان ذبيحة ولم يقل باسم الله تكون ميتة حراماً نجسة مضرة على البدن، حتى لو ذبح ونسي أن يقول: بسم الله. فهي حرام نجسة تفسد البدن، فيجب أن يسحبها للكلاب، لأنها نجسة، قال الله تعالى: {ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه وإنه لفسق} فانظر البركة، والإنسان إذا توضأ ولم يسم فوضوؤه عند بعض العلماء فاسد لابد من الإعادة، لأن البسملة واجبة عند بعض أهل العلم، والإنسان إذا رأى الصيد الزاحف، أو الطائر فيرميه ولم يسمِ يكون هذا الصيد حراماً ميتة نجساً مضراً على البدن، فانظر البركة، والإنسان إذا أتى أهله يعني جامع زوجته وقال: «بسم الله، اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا» كان هذا حماية لهذا الولد الذي ينشأ من هذا الجماع، حماية له من الشيطان، قال النبي صلى الله عليه وسلم : «لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال: «بسم الله، اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا. فإنه إن يقدر بينهما ولد لم يضره الشيطان أبداً (10) » والإنسان يسعى يميناً وشمالاً لحماية ولده ويخسر الدراهم الكثيرة، وهنا هذا الدواء من الرسول عليه الصلاة والسلام وهو يسير من ناحية العمل، وسهل، وكل هذا دليل على بركة اسم الله عز وجل، {ذي الجلال والإكرام } أي: ذي العظمة والإكرام،{ذي الجلال والإكرام }: بمعنى صاحب، وهي صفة لرب، لا لـ(اسم) ولو كانت صفة لـ(اسم) لكانت ذو، والإكرام يعني هو يُكرِم وهو يُكرَم، فهو يكرم ويحترم ويعظم – عز وجل – وهو أيضاً يكرم، قال الله تعالى في أصحاب الجنة {أولـئك في جنات مكرمون } فهو ذو الجلال والإكرام يكرم من يستحق الإكرام، وهو يكرمه – عز وجل – عباده الصالحون جعلنا الله منهم بمنه وكرمه.

———————–

(1) أخرجه البخاري، كتاب العلم، باب قول المحدث: حدثنا أو أخبرنا وأنبأنا (رقم 61) ومسلم، كتاب صفات المنافقين وأحكامهم، باب مثل المؤمن مثل النخلة (رقم 2811).

(2) أخرجه الترمذي، كتاب تفسير القرآن، باب ومن سورة الرحمن (3291) وقال: هذا حديث غريب.

(3) انظر: تفسير ابن كثير رحمه الله سورة الرحمن حيث نسبه للشعبي رحمه الله.

(4) أخرجه الترمذي، كتاب تفسير القرآن، باب ومن سورة البقرة (2969) وقال: هذا حديث حسن صحيح.

(5) أخرجه البخاري، كتاب الأذان، باب يستقبل الإمام الناس إذا سلم (846) ومسلم، كتاب الإيمان، باب بيان كفر من قال مطرنا بالنوء (71).

(6) تقدم.

(7) أخرجه أبو نعيم في صفة الجنة (رقم 124).

(8) أخرجه البخاري، كتاب فضائل الصحابة، باب قول النبي صلى الله عليه وسلم: لو كنت متخذاً خليلاً (3676) ومسلم، كتاب فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر رضي الله عنه (2393).

(9) أخرجه البخاري كتاب الدعوات، باب التوبة (6308، 6309) ومسلم، كتاب التوبة، باب في الحض على التوبة والفرح بها (2747).

(10) أخرجه البخاري، كتاب الوضوء، باب التسمية على كل حال وعند الوقاع (141) ومسلم، كتاب النكاح، باب ما يستحب أن يقوله عند الجماع (1434).

التحذير من فتنة النساء

Januari 24, 2009

روى الإمام البخاري في صحيحه ( كتاب النكاح/ باب ما يتقى من شؤم المرأة، وقول الله تعالى: {إن من أزواجكم وأولادكم عدوا لكم } [التغابن: 14]/ حديث 5096) قال:حدثنا آدم حدثنا شعبة عن سليمان التميمي قال: سمعت أبا عثمان النهدي عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ( ما تركت بعدي فتنةً أضرَّ على الرجال من النساء )

قلت: وأخرجه مسلم في صحيحه ( كتاب الرقاق/ باب أكثر أهل الجنة الفقراء/ 2740)

الشرح/ قال الإمام الطحاوي في شرح مشكل الآثار بعد أن ساق هذا الحديث (11/101):

فقال قائل: ففي هذا الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ما قد ذكرتموه عنه فيه وقد رويتم عنه ما يخالف ذلك؛ فذكر ما قد حدثنا يونس أخبرني ابن وهب أخبرني معاوية بن صالح عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير عن أبيه عن كعب بن عياض عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال. قال: ففي هذا الحديث أن فتنة أمته المال فكيف يجوز أن تكون فتنة النساء أعظم من ذلك فكان جوابنا له في ذلك أن قوله صلى الله عليه وسلم ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من فتنة النساء هو على الفتنة التي تلحق الرجال دون النساء وفي ذلك ما قد دل أنه قد ترك صلى الله عليه وسلم في أمته فتنا سوى النساء وكان قوله صلى الله عليه وسلم فتنة أمتي المال على فتنة تعم الرجال والنساء من أمته فكانت تلك الفتنة أوسع وأكثر أهلا من الفتنة الأخرى وكل واحدة منهما فأهلها الأهل الذين قد دل كل واحد من هذين الحديثين عليهم من هم، وقد روي عنه صلى الله عليه وسلم من تحذيره من فتنة الدنيا ومن فتنة النساء ما قد حدثنا أبو أمية حدثنا عثمان بن عمر بن فارس حدثنا شعبة عن أبي مسلمة عن أبي نضرة عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الدنيا حلوة خضرة وإن الله عز وجل مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون فاتقوا فتنة الدنيا وفتنة النساء فإن أول فتنة بني إسرائيل بالنساء فكان في هذا الحديث ذكره فتنة النساء التي ذكرها في حديث أبي عثمان النهدي وذكر فتنة الدنيا وفيها الفتنة بالمال المذكورة في حديث كعب بن عياض والفتن بما سوى ذلك والله الموفق.

وقال الحافظ ابن حجر في فتح الباري (9/138): قوله ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء قال الشيخ تقي الدين السبكي: في إيراد البخاري هذا الحديث عقب حديثي بن عمر وسهل بعد ذكر الآية في الترجمة إشارة إلى تخصيص الشؤم بمن تحصل منها العداوة والفتنة لا كما يفهمه بعض الناس من التشاؤم بكعبها أو أن لها تأثيرا في ذلك وهو شيء لا يقول به أحد من العلماء ومن قال أنها سبب في ذلك فهو جاهل وقد أطلق الشارع على من ينسب المطر إلى النوء الكفر فكيف بمن ينسب ما يقع من الشر إلى المرأة مما ليس لها فيه مدخل وإنما يتفق موافقة قضاء وقدر فتنفر النفس من ذلك فمن وقع له ذلك فلا يضره أن يتركها من غير أن يعتقد نسبة الفعل إليها قلت وقد تقدم تقرير ذلك في كتاب الجهاد وفي الحديث أن الفتنة بالنساء أشد من الفتنة بغيرهن ويشهد له قوله تعالى زين للناس حب الشهوات من النساء فجعلهن من حب الشهوات وبدأ بهن قبل بقية الأنواع إشارة إلى أنهن الأصل في ذلك ويقع في المشاهدة حب الرجل ولد من امرأته التي هي عنده أكثر من حبه ولده من غيرها ومن أمثلة ذلك قصة النعمان بن بشير في الهبة وقد قال بعض الحكماء: النساء شر كلهن وأشر ما فيهن عدم الاستغناء عنهن ومع أنها ناقصة العقل والدين تحمل الرجل على تعاطي ما فيه نقص العقل والدين كشغله عن طلب أمور الدين وحمله على التهالك على طلب الدنيا وذلك أشد الفساد وقد أخرج مسلم من حديث أبي سعيد في أثناء حديث واتقوا النساء فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

حكم التأمين الصحي

Januari 24, 2009

من عبد العزيز بن عبد الله بن باز، إلى حضرة الأخ المكرم / مدير (معهد الدعوة والإرشاد) بالمدينة المنورة – سلمه الله -.

سلامٌ عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد:[1]

فأشير إلى كتابكم رقم: 522 / 9 / س، وتاريخ 25/7/1407هـ، ومشفوعه كتاب مدير عام الشئون الصحية بمنطقة المدينة المنورة؛ بشأن:

ما يقوم به (مستوصف الفهد الخاص) في المدينة، باستحداث موضوع التأمين الصحي، المتمثل في دفع مبلغ مقطوع من المال مقدماً، مقابل تقديم الخدمة العلاجية المجانية له في خلال سنة لفرد أو لأفراد الأسرة، وطلبكم الفتوى الشرعية حيال الموضوع.

وأفيدكم: بأن ما ذكرتموه يعتبر من صور التأمين التجاري، وقد صدر من اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء فتوى في تحريم ذلك، نشفع لكم صورة منها، وفيه الكفاية – إن شاء الله – .

وفق الله الجميع لما فيه رضاه. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

الرئيس العام لإدارات البحوث

العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد

حكم الملاكمة ومصارعة الثيران والمصارعة الحرة

Januari 24, 2009

سائل من مصر يسأل عن حكم الإسلام في الملاكمة ومصارعة الثيران والمصارعة الحرة ؟

الملاكمة ومصارعة الثيران من المحرمات المنكرة لما في الملاكمة من الأضرار الكثيرة والخطر العظيم، ولما في مصارعة الثيران من تعذيب للحيوان بغير حق، أما المصارعة الحرة التي ليس فيها خطر ولا أذى ولا كشف للعورات فلا حرج فيها؛ لحديث مصارعة النبي صلى الله عليه وسلم ليزيد بن ركانة فصرعه عليه الصلاة والسلام ؛ ولأن الأصل في مثل هذا الإباحة إلا ما حرمه الشرع المطهر، وقد صدر من المجمع الفقهي الإسلامي التابع لرابطة العالم الإسلامي قرار بتحريم الملاكمة ومصارعة الثيران لما ذكرنا آنفا وهذا نصه:
القرار الثالث بشأن موضوع الملاكمة والمصارعة الحرة ومصارعة الثيران[1] الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعدهK سيدنا ونبينا محمد صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم. أما بعد: فإن مجلس المجمع الفقهي الإسلامي لرابطة العالم الإسلامي في دورته العاشرة المنعقدة بمكة المكرمة في الفترة من يوم السبت 24 صفر 1408 هـ الموافق 17 أكتوبر 1987 م إلى يوم الأربعاء 28 صفر 1408 هـ الموافق 21 أكتوبر 1987 م قد نظر في موضوع الملاكمة والمصارعة الحرة من حيث عدهما رياضة بدنية جائزة، وكذا في مصارعة الثيران المعتادة في بعض البلاد الأجنبية، هل تجوز في حكم الإسلام أو لا تجوز. وبعد المداولة في هذا الشأن من مختلف جوانبه والنتائج التي تسفر عنها هذه الأنواع التي نسبت إلى الرياضة وأصبحت تعرضها برامج البث التلفازي في البلاد الإسلامية وغيرها. وبعد الاطلاع على الدراسات التي قدمت في هذا الشأن بتكليف من مجلس المجمع في دورته السابقة من قبل الأطباء ذوي الاختصاص، وبعد الاطلاع على الإحصائيات التي قدمها بعضهم عما حدث فعلا في العالم نتيجة لممارسة الملاكمة وما يشاهد في التلفزة من بعض مآسي المصارعة الحرة، قرر مجلس المجمع ما يلي:
أولا: الملاكمة:
يرى مجلس المجمع بالإجماع أن الملاكمة المذكورة التي أصبحت تمارس فعلا في حلبات الرياضة والمسابقة في بلادنا اليوم هي ممارسة محرمة في الشريعة الإسلامية؛ لأنها تقوم على أساس استباحة إيذاء كل من المتغالبين للآخر إيذاء بالغا في جسمه قد يصل به إلى العمى أو التلف الحاد أو المزمن في المخ، أو إلى الكسور البليغة، أو إلى الموت، دون مسئولية على الضارب، مع فرح الجمهور المؤيد للمنتصر، والابتهاج بما حصل للآخر من الأذى، وهو عمل محرم مرفوض كليا وجزئيا في حكم الإسلام لقوله تعالى: وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ[2]، وقوله تعالى: وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا[3]، وقوله صلى الله عليه وسلم: ((لا ضرر ولا ضرار)). على ذلك فقد نص فقهاء الشريعة على أن من أباح دمه لآخر فقال له: اقتلني أنه لا يجوز له قتله، ولو فعل كان مسئولا ومستحقا للعقاب. وبناء على ذلك يقرر المجمع أن هذه الملاكمة لا يجوز أن تسمى رياضة بدنية، ولا تجوز ممارستها؛ لأن مفهوم الرياضة يقوم على أساس التمرين دون إيذاء أو ضرر، ويجب أن تحذف من برامج الرياضة المحلية ومن المشاركات فيها في المباريات العالمية، كما يقرر المجلس عدم جواز عرضها في البرامج التلفازية كي لا تتعلم الناشئة هذا العمل السيئ وتحاول تقليده.
ثانيا: المصارعة الحرة:
وأما المصارعة الحرة التي يستبيح فيها كل من المتصارعين إيذاء الآخر والإضرار به. فإن المجلس يرى فيها عملا مشابها تمام المشابهة للملاكمة المذكورة وإن اختلفت الصورة، لأن جميع المحاذير الشرعية التي أشير إليها في الملاكمة موجودة في المصارعة الحرة التي تجرى على طريقة المبارزة وتأخذ حكمها في التحريم. وأما الأنواع الأخرى من المصارعة التي تمارس لمحض الرياضة البدنية ولا يستباح فيها الإيذاء فإنها جائزة شرعا ولا يرى المجلس مانعا منها.
ثالثا: مصارعة الثيران:
وأما مصارعة الثيران المعتادة في بعض بلاد العالم، والتي تؤدي إلى قتل الثور ببراعة استخدام الإنسان المدرب للسلاح فهي أيضا محرمة شرعا في حكم الإسلام، لأنها تؤدي إلى قتل الحيوان تعذيبا بما يغرس في جسمه من سهام، وكثيرا ما تؤدي هذه المصارعة إلى أن يقتل الثور مصارعه وهذه المصارعة عمل وحشي يأباه الشرع الإسلامي الذي يقول رسوله المصطفى صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: ((دخلت امرأة النار في هرة حبستها، فلا هي أطعمتها وسقتها إذ حبستها، ولا هي تركتها تأكل من خشاش الأرض)). فإذا كان هذا الحبس للهرة يوجب دخول النار يوم القيامة فكيف بحال من يعذب الثور بالسلاح حتى الموت؟
رابعا: التحريش بين الحيوانات:
ويقرر المجمع أيضا تحريم ما يقع في بعض البلاد من التحريش بين الحيوانات كالجمال والكباش، والديكة، وغيرها، حتى يقتل أو يؤذي بعضها بعضا. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين.