Emosi

BAB I
P E N D A H U L U A N

Masalah yang sering terjadi pada perkembangan intelektual dan emosional remaja adalah ketidak seimbangan antara keduanya. Kemampuan intelektual mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah dengan berbagai media. Mereka telah dibanjiri informasi berbagai informasi, pengertian-pengertian, serta konsep-konsep pengetahuan melalui media massa (televisi, video, radio, dan film) yang semuanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para remaja sekarang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan semakin modern mempengaruhi dunia pendidikan yang cenderung mengutamakan aspek kognitif (kecerdasan intelektual), sementara nilai-nilai afektif keimanan, ketakwaan, mengelola emosi dan akhlak mulia sebagaimana ditegaskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional yaitu : untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Alloh Subhahu Wata’ala dan berakhlak mulia, kurang banyak dikaji dalam dunia pendidikan persekolahan.
Hal ini bukan karena tidak disadari esensinya, melainkan pendidikan lebih mengutamakan mengejar ilmu pengetahuan dari pada mendidik dan membina kepribadian dan akhlak mulia anak didik. Dunia pendidikan tidak mengembangkan nilai-nilai afektif sebagai dasar pembinaan kepribadian anak yang menjadi tolok ukur pertama dan utama dalam pelaksanaan pendidikan di Negara kita, menjadi parsial atau tidak utuh sebagaimana diisyaratkan oleh Pendidikan Umum bahwa pendidikan menyeimbangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Akibat nilai pendidikan parsial, tidak menyeimbangkan kognitif dan afektif, anak didik disatu pihak intelektualnya cerdas, kemampuan skill cakap dan terampil, di sisi lain potensi afektif emosional, nilai, moral dan sikap tidak terbina terutama di kalangan remaja sehingga melahirkan erosi moral afektual, kultural dan menjadi penyebab demoralisasi.
Gejala- gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik mengetahui setiap aspek tersebut dan hal yang lain merupakan sesuatu yang terbaik sehingga perkembangan remaja sebagai peserta didik berjalan dengan normal dan mulus tanpa ada mengalami gangguan sedikitpun.
Rumusan masalah
Apa saja yang termasuk dalam perkembangan afektif remaja

BAB II
PEMBAHASAN

A. EMOSI
1. Pengertian
Perasaan senang/tidak senang yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari dan sebagainya warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang lemah/tidak jelas. Jika warna afektif kuat maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, luas dan terarah. Perasaan-perasaan seperti ini disebut Emosi (misalnya: gembira, marah, cinta, takut dan sebagainya). Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi perbedaannya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kuantitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu yang diwujudkan dalam tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan tubuh.

2. Perbedaan emosi dengan perasaan
Perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup karena tidak banyak melibatkan aspek fisik. Sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang dinamis dan terbuka karena melibatkan ekspresi fisik.
Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan Topan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar, meningginya emosi terutama karena anak berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.
Pola emosi Remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jadi emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih, dan lain-lain.
Perbedaan terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosi dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Bichler membagi ciri-ciri emosional Remaja menjadi 2 tahap, yaitu :
a. Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun
 Siswa/siswi cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka, kemungkinan akibat dari perubahan biologis dalam hubungan dengan kematangan seksual dan kebingungan dalam statusnya.
 Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
 Ledakan-ledakan kemarahan sering terjadi akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidakseimbangan biologis, kelelahan karena bekerja terlalu keras, pola makna yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
 Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri.
b. Ciri-ciri emosional remaja berusia 15-18 tahun
 Pemberontakan remaja yang merupakan pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
 Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka, mereka mungkin mengharapkan simpati dan nasehat orang tua dan guru.
 Pada usia ini sering kali melamun, memikirkan masa depan, terlalu menafsir kemampuan sendiri dan merasa berpeluang besar untuk pekerjaan dan memegang jabatan tertentu
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan emosi
Perkembangan emosi remaja dipengaruhi pada faktor kematangan dan faktor belajar Perkembangan Intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan dalam jangka yang lebih lama dan menimbulkan emosi terarah pada suatu objek, kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Selain itu Perkembangan kelenjar Endoktrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan Cuma-Cuma
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Pelatihan/belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
5. Hubungan antara Emosi dengan Tingkah Laku
Rasa takut, cemas, kegembiraan dan ketakutan yang berlebih dapat menimbulkan efek negatif pada tubuh, misalnya gangguan pada sistem pencernaan, diare, sembelit, dsb. Gangguan emosi jiwa juga dapat menjadi penyebab berbicara, gagap, sikap takut, malu/agresif. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Perasaan malu juga bisa menyebabkan seorang anak menarik diri, takut berpartisipasi, melarikan diri, dsb.
Jadi rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan yang tidak menyenangkan, akan sangat mempengaruhi hasil belajar dan malah menghambat proses belajar dan demikian pula rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan mempermudah siswa belajar, sehingga dapat dikatakan emosi yang dimiliki oleh remaja sangat mempengaruhi tingkah laku remaja tersebut.
6. Upaya Pengembangan Emosi Remaja
Emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka yang dapat dilakukan guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab.
Upaya pengembangan emosi remaja, yaitu:
a. Membantu mereka dan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
b. Meminta siswa mendiskusikan dan menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negative serta memahami alasan-alasan pemberontakannya agar dapat membantu siswa untuk mengendalikan diri.
c. Cara yang paling baik menghadapi pemberontakan remaja adalah mencoba mengerti mereka dan melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu remaja berhasil berprestasi dalam salah satu bidang.
d. Guru diminta untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik atas segala cerita-cerita mereka tentang masalahnya, perasaan-perasaannya, dan rahasia pribadinya.
e. Mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola emosi yang diinginkan dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang kuat.

B. PERKEMBANGAN, MORAL, NILAI DAN SIKAP
1. Pengertian
a. Moral
 Merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi.
 Menurut Lawrence Kohlberg, moral adalah fenomena kognitif dalam kajian psikologi.
 Menurut Purwadarminto, 1959: 197, moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya.
b. Nilai
 Merupakan sesuatu yang baik, diinginkan atau dicita-citakan dan dianggap penting oleh warga masyarakat, misalnya kebiasaan dan sopan santun.
 Menurut Young, nilai merupakan asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.
 Menurut Green, nilai merupakan kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap obyek, ide dan orang perorangan
 Menurut Woods, nilai merupakan petunjuk umum dan telah berlangsung lama yang mengarah pada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Sikap
Menurut Green, sikap merupakan kesediaan bereaksi individu terhadap suatu hal, sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang. Selain itu sikap juga merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut.
2. Hubungan Nilai, Moral, Sikap, dan Tingkah Laku
Dalam kaitan dengan pengamalan nilai-nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud. Dalam hal ini aliran Psikonalisis tidak membeda-bedakan antara moral, norma dan nilai. Semua konsep itu menurut Freud menyatu dalam konsepnya super ego . Super ego sendiri dalam teori Freud merupakan bagian dari jiwa yang berfungsi untuk mengendalikan tingkah laku ego, sehingga tidak bertentangan dengan masyarakat.
Jadi keterkaiatan antar nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dengan kata lain, nilai-nilai perlu dikenal lebih dahulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.

3. Karakteristik nilai, moral dan sikap remaja
Nilai-nilai kehidupan yang perlu diinformasikan dan selanjutnya dihayati oleh para remaja tidak terbatas pada adapt istiadat dan sopan santun saja, namun juga seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, misalnya : nilai agama, nilai kemanusiaan, nilai estetika, nilai etik, nilai intelektual dan sebagainya.
Michael meringkas 5 perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan remaja, yaitu :
a. Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak
b. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan
c. Penilaian moral menjadi sebagai kognitif, remaja semakin berani mengambil keputusan.
d. Penilaian moral menjadi kurang egosentris
e. Penilaian secara psikologis menjadi lebih mahal
4. Tahap-tahap perkembangan moral yang berlaku secara universal
a. Pra konvensional
Stadium 1, Anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman, anak mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan oleh adanya kekuasan yang tidak bisa diganggu gugat, ia harus menurut dan kalau tidak akan memperoleh hukuman .
Stadium 2, Berlaku prinsip Relativistic – Hedonism (bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang). Anak tidak lagi secara mutlak bergantung pada aturan yang ada di luar atau disusun orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian memiliki beberapa segi .
b. Konvensional
Stadium 3, orientasi mengenai orientasi anak yang baik, anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Masyarakat adalah sumber yang menentukan dan menjadi penilai
Stadium 4, tahap mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas, perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang ada, agar tidak terjadi kekacauan.
c. Pasca Konvensial
Stadium 5, tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dan masyarakat. Seseorang memperlihatkan kewajibannya dan lingkungan sosial akan memberikan perlindungan kepadanya.
Stadium 6, tahap ini disebut prinsip universal. Remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri karena menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai, mengerti tidak hanya memperoleh pengertian saja, melainkan juga dapat menjalankan atau mengamalkannya.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai,moral, sikap dan tingkah laku
a. Hubungan harmonis dalam keluarga, yang merupakan tempat penerapan moral pertama sebagian individu.
b. Masyarakat, tingkah laku manusia bisa terkendali oleh kontrol dari masyarakat yang mempunyai sanksi-sanksi buat pelanggarnya .
c. Lingkungan sosial, lingkungan sosial terutama lingkungan sosial terdekat yang bisa sebagai pendidik dan pembina untuk memberi pengaruh dan membentuk tingkah laku yang sesuai
d. Perkembangan nalar, makin tinggi penalaran seseorang, maka makin tinggi pula moral seseorang
6. Upaya Mengembangkan Nilai, Moral dan Sikap Remaja
a. Menciptakan komunikasi, dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral .Remaja dirangsang untuk lebih aktif, diikutsertakan dalam mengambil keputusan dan tanggung jawab, diberi kesempatan berpartisipasi mengembangkan aspek moral. Karena kita tahu nilai-nilai hidup yang dipelajari memperoleh kesempatan untuk diterima dan diresapi sebelum menjadi bagian integral dari tingkah laku seseorang.
b. Menciptakan lingkungan yang serasi, dalam usaha pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak mengutamakan pendekatan-pendekatan semata-mata, tetapi juga mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif dimana faktor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkrit dari nilai-nilai tersebut . Lingkungan itu terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina (orang tua, guru).
c. Memberi contoh atau tauladan perilaku yang merupakan perwujudan nilai-nilai yang diperjuangkan
d. Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang di dalamnya diajarkan nilai, moral dan sikap yang baik dan terpuji.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: